Sabtu, 18 Juni 2011

Perburuan Gelap Penyu Sisik, Hijau di Perairan Sulbar

Ilustrasi

Penyu sisik dan hijau yang dilindungi negara di kawasan perairan Provinsi Sulawesi Barat menjadi sasaran perburuan gelap .

"Kawasan perairan sepanjang 677 kilometer pantai Sulbar maupun di perairan yang terletak di kepulauan di wilayah Sulbar di selat Makassar, merupakan tempat penyu sisik dan hijau berkembang biak," kata Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan DKP Provinsi Sulbar, Farid Wajidi, di Mamuju, Kamis.

Ia mengatakan, para nelayan pemburu gelap ingin mengambil untung dari harga jual penyu yang mahal.

"Perburuan gelap yang marak dilakukan nelayan yang berasal dari daerah Provinsi Sulawesi Selatan sebelumnya telah terungkap pihak kepolisian Polres Kabupaten Polman," katanya.

Menurut dia, pada bulan April polisi air Polres Polman menggagalkan dan menangkap aksi sekitar 19 nelayan Kabupaten Takalar yang menangkap penyu sisik dan hijau di perairan Sulbar.

"Polisi menyita sekitar 36 ekor penyu sisik dan hijau dari para nelayan itu serta mengamankan empat unit perahu mereka, dan 50 lembar pukat penangkap penyu sisik dan hijau," katanya.

Ia mengatakan, para nelayan itu telah mempertanggungjawabkan perbuatannya akibat pelanggaran terhadap  undang undang Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistem.

Farid Wajidi mengatakan, dengan adanya aksi perburuan gelap nelayan tersebut hendaknya seluruh aparat keamanan dari unsur kepolisian harus terus meningkatkan pengawasan karena bukan mustahil nelayan pemburu gelap penyu sisik dan hijau dapat kembali beraksi.

"Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulbar terus melakukan pengawasan terhadap sumber daya ekosistem laut daerah ini agar tetap terlindungi dan terjaga serta terpelihara, bersama aparat berwajib yakni unsur kepolisian juga yang harus mendukung pemerintah dalam program tersebut di lima Kabupaten di Sulbar,"katanya.

Sumber : Antaranews.com

Abrasi Ancam Habitat Penyu di Bengkulu

Ilustrasi Penyu Bengkulu

Abrasi di pantai barat Sumatra mengancam kelestarian habitat penyu khususnya di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Muko Muko Provinsi Bengkulu.

"Laju abrasi sangat tinggi dan mengakibatkan cagar alam Muko Muko I dan II sudah hilang, dan mengancam habitat penyu," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Amon Zamora di Bengkulu, Jumat.

Ia mengatakan sepanjang 270 kilometer pantai yang mencakup tiga kabupaten dan kota yaitu Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara dan Muko Muko merupakan habitat bertelur satwa penyu.

Dari catatan BKSDA, terdapat lima jenis penyu yang dilindungi di perairan Bengkulu, yaitu penyu lekang, penyu sisik, penyu hijau, penyu belimbing dan penyu tempayan.

"Seperti abrasi di Muko Muko yang membuat badan jalan juga ambles, ini akan mengancam kelestarian penyu yang masih sering bertelur disana," tambahnya.

Amon mengatakan abrasi pantai barat perlu penanganan serius. Meski sudah dibangun sejumlah pemecah ombak, namun titik abrasi terus bertambah, bahkan mengancam fasilitas umum seperti jalan dan jaringan listrik.

Selain ancaman abrasi, perburuan penyu untuk diperjualbelikan juga mengancam kelestarian satwa dilindungi itu.

Perburuan penyu kata dia masih marak di perairan Bengkulu dan Pulau Enggano yang juga habitat bertelurnya.

Ia mengatakan, khusus di Pulau Enggano perburuan semakin mengkhawatirkan sebab pembunuhan terhadap satwa itu tidak hanya untuk kepentingan adat tapi sudah dikomersilkan.

Ketua Tim Patroli BKSDA Bengkulu Resor Pulau Enggano Rendra Regen Rais mengatakan perburuan penyu secara liar masih tinggi di pulau terluar itu.

"Sebenarnya kami sudah membahas ini dengan tetua adat agar keberadaan penyu dalam menu pesta adat hanya sebagai syarat, bisa hanya satu ekor untuk setiap pesta," katanya.

Regen mengatakan, dari hasil patroli BKSDA Bengkulu Resor Enggano ditemukan adanya pembunuhan penyu untuk diperdagangkan dengan barang bukti kepala dan kerapas satwa yang biasanya ditinggalkan pemburu di pinggir pantai.

Faktor lain yang mengancam kelestarian penyu adalah faktor alam yaitu babi hutan dan biawak yang sering memakan telur penyu.

Sumber : Antaranews.com