Sabtu, 18 Juni 2011

PMI Berhasil Capai Lokasi Terparah Gempa Tarutung

Lembaga kemanusiaan Palang Merah Indonesia (PMI) menyatakan telah berhasil mencapai lokasi terparah akibat bencana gempa bumi yang terjadi di daerah Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

"Kami sudah menjangkau lokasi terparah bencana gempa ini, di Pahae Jahe yaitu Dusun II dan Dusun III di Desa Tordolok Nauli, kata Sekretaris PMI Tapanuli Utara dr Ricardo, dalam rilis PMI yang diterima di Jakarta, Jumat.

Ricardo memaparkan, tim dari PMI Kabupaten Tapanuli Utara yang terdiri dari satu orang dokter dan empat orang perawat, juga telah merampungkan pendataan bersama tiga personil dari PMI Provinsi Sumatera Utara sejak Kamis (16/6).

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Sosial dan Kesehatan Masyarakat PMI Provinsi Sumatera Utara Harliandi Mahardhika mengatakan, lokasi terparah di Pahae Jahe memiliki wilayah yang berbukit-bukit sehingga sempat terjadi longsor.

Harliandi menjabarkan, terdapat ratusan rumah warga rusak parah termasuk beberapa gedung sekolah yaitu satu unit gedung SMP dan satu unit gedung SMA.

"Warga di sana juga masih trauma dan masih tinggal di tenda-tenda darurat di luar rumah mereka," katanya.

PMI Provinsi Sumatera Utara sebelumnya juga telah mengirimkan 200 selimut dan 100 terpal yang ditargetkan akan didistribusikan untuk korban gempa di Pahae Jahe.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memastikan penanganan pascagempa berkekuatan 5,5 Skala Richter (SR) di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut, pada Selasa (14/6), berjalan baik.

"Ketika mendarat di Jenewa saya sudah mendapat laporan, ada gempa di Tapanuli Utara. Alhamdulillah tidak ada yang meninggal, ada kerusakan ringan, ada yang berat tetapi sudah bisa ditangani dengan baik," kata Presiden dalam jumpa pers dengan wartawan Indonesia di Hotel Imperial, Tokyo, Kamis (16/6).

Presiden telah berkomunikasi dengan Wakil Presiden Boediono guna memastikan bahwa proses penanganan pascabencana berjalan sebagaimana mestinya termasuk penanganan korban dan bantuan.

Pada Selasa (14/6), Staf Pelayanan Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan Albertus Simanullang mengatakan gempa pertama berpusat di 1.79 lintang utara (LU) dan 99.13 bujur timur (BT).

Gempa pada pukul 07.08 WIB itu terjadi di 30 kilometer tenggara Tarutung dengan kedalaman 10 km di bawah tanah.

Sedangkan gempa kedua berpusat di 1.83 LU dan 99.07 BT atau 22 kilometer tenggara Tarutung dengan kedalaman 10 km di bawah tanah.

Sumber : Antaranews.com

124 Ruang Sekolah Rusak Akibat Gempa Tarutung

Ilustrasi

Sebanyak 124 ruang sekolah di empat kecamatan di Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara rusak akibat gempa berkekuatan 5,5 Skala Richter yang melanda daerah itu Selasa (14/6) pagi.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Drs Joskar Limbong, di ketika dihubungi dari Medan, Jumat, mengatakan, saat ini pihaknya masih terus melakukan pendataan berapa banyak sekolah di daerah itu yang rusak akibat gempa tersebut.

"Sampai saat ini data yang sudah kami dapat adalah 124 ruang sekolah rusak, baik rusak berat, sedang maupun ringan tingkat SD, SMP, SMA maupun SMK di empat kecamatan yakni Kecamatan Pahae Jae, Pahae Julu, Purba Tua dan Simangumban," katanya.

Secara rinci ruang sekolah yang rusak tersebut yakni di Kecamatan Pahae Jae sebanyak 91 ruang, 60 rusak sedang dan 31 rusak ringan. Kecamatan Pahae Julu 18 ruang sekolah rusak sedang, Kecamatan Simangumban 13 rusak, 7 rusak sedang dan 6 rusak berat dan di Kecamatan Purba Tua ada dua ruang sekolah rusak sedang.

Ia mengatakan, akibat gempa yang menyebabkan ratusan ruang sekolah rusak itu, memaksa siswa harus belajar di tenda-tenda darurat di berbagai tempat baik di halaman sekolah maupun disekitar lokasi penampungan pengungsi.

"Saat ini siswa-siswa SD dan SMP sedang mengikuti ujian kenaikan kelas. Karena kedaan ruang sekolah yang tidak memungkinkan, beberapa sekolah terpaksa melakukan ujian dengan menggunakan dua gelombang yakni pagi dan sore," katanya.

Kepala Dinas Pendidikan sumatera Utara, Syaiful Syafri, mengatakan, berdasarkan informasi yang diperoleh sedikitnya 1.500 siswa SD dan SMP di kabupaten tersebut terpaksa mengikuti ujian di tenda-tenda darurat akibat rusaknya bangunan sekolah mereka.

"Ujian kenaikan kelas kali ini harus dilakukan sebagian siswa di tenda-tenda darurat. Meski demikan saya mengimbau para siswa untuk tetap semangat belajar dan tetap menguji ujian kendati sekolah mereka roboh akibat gempa. Kita juga sudah memberikan bantuan peralatan sekolah berupa baju seragam dan tas sekolah sebanyak seribu paket," katanya.

Hingga Kamis (16/6), Pemkab Tapanuli Utara sudah mendata sebanyak 864 rumah penduduk rusak akibat gempa tersebut.

"Daerah yang paling banyak rumah warga rusak, yakni Desa Nahornop Marsada, Kecamatan Pahae Jae, sekitar 76 kilometer arah barat Kota Tarutung atau 365 kilometer arah Selatan Kota Medan. Hingga Kamis bantuan makanan berupa mie instan, minyak, beras, gula dan uang, terus berdatangan untuk membantu warga korban gempa," kata Kabag Humas Pemkab Tapanuli Utara Jahormat Lumbangaol.

Sebelumnya, staf Pelayanan Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan Albertus Simanullang mengatakan gempa Selasa (14/6) terjadi dua kali, yakni berpusat di 1,79 lintang utara (LU) dan 99,13 bujur timur (BT).

Gempa pada pukul 07.08 WIB itu terjadi di 30 kilometer tenggara Tarutung dengan kedalaman 10 kilometer di bawah tanah. Gempa kedua berpusat di 1,83 LU dan 99,07 BT atau 22 kilometer tenggara Tarutung dengan kedalaman 10 kilometer di bawah tanah.

Gempa tersebut tidak memiliki potensi menimbulkan gelombang tsunami.

Sumber : Antaranews.com

Perburuan Gelap Penyu Sisik, Hijau di Perairan Sulbar

Ilustrasi

Penyu sisik dan hijau yang dilindungi negara di kawasan perairan Provinsi Sulawesi Barat menjadi sasaran perburuan gelap .

"Kawasan perairan sepanjang 677 kilometer pantai Sulbar maupun di perairan yang terletak di kepulauan di wilayah Sulbar di selat Makassar, merupakan tempat penyu sisik dan hijau berkembang biak," kata Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan DKP Provinsi Sulbar, Farid Wajidi, di Mamuju, Kamis.

Ia mengatakan, para nelayan pemburu gelap ingin mengambil untung dari harga jual penyu yang mahal.

"Perburuan gelap yang marak dilakukan nelayan yang berasal dari daerah Provinsi Sulawesi Selatan sebelumnya telah terungkap pihak kepolisian Polres Kabupaten Polman," katanya.

Menurut dia, pada bulan April polisi air Polres Polman menggagalkan dan menangkap aksi sekitar 19 nelayan Kabupaten Takalar yang menangkap penyu sisik dan hijau di perairan Sulbar.

"Polisi menyita sekitar 36 ekor penyu sisik dan hijau dari para nelayan itu serta mengamankan empat unit perahu mereka, dan 50 lembar pukat penangkap penyu sisik dan hijau," katanya.

Ia mengatakan, para nelayan itu telah mempertanggungjawabkan perbuatannya akibat pelanggaran terhadap  undang undang Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistem.

Farid Wajidi mengatakan, dengan adanya aksi perburuan gelap nelayan tersebut hendaknya seluruh aparat keamanan dari unsur kepolisian harus terus meningkatkan pengawasan karena bukan mustahil nelayan pemburu gelap penyu sisik dan hijau dapat kembali beraksi.

"Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulbar terus melakukan pengawasan terhadap sumber daya ekosistem laut daerah ini agar tetap terlindungi dan terjaga serta terpelihara, bersama aparat berwajib yakni unsur kepolisian juga yang harus mendukung pemerintah dalam program tersebut di lima Kabupaten di Sulbar,"katanya.

Sumber : Antaranews.com

Abrasi Ancam Habitat Penyu di Bengkulu

Ilustrasi Penyu Bengkulu

Abrasi di pantai barat Sumatra mengancam kelestarian habitat penyu khususnya di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Muko Muko Provinsi Bengkulu.

"Laju abrasi sangat tinggi dan mengakibatkan cagar alam Muko Muko I dan II sudah hilang, dan mengancam habitat penyu," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Amon Zamora di Bengkulu, Jumat.

Ia mengatakan sepanjang 270 kilometer pantai yang mencakup tiga kabupaten dan kota yaitu Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara dan Muko Muko merupakan habitat bertelur satwa penyu.

Dari catatan BKSDA, terdapat lima jenis penyu yang dilindungi di perairan Bengkulu, yaitu penyu lekang, penyu sisik, penyu hijau, penyu belimbing dan penyu tempayan.

"Seperti abrasi di Muko Muko yang membuat badan jalan juga ambles, ini akan mengancam kelestarian penyu yang masih sering bertelur disana," tambahnya.

Amon mengatakan abrasi pantai barat perlu penanganan serius. Meski sudah dibangun sejumlah pemecah ombak, namun titik abrasi terus bertambah, bahkan mengancam fasilitas umum seperti jalan dan jaringan listrik.

Selain ancaman abrasi, perburuan penyu untuk diperjualbelikan juga mengancam kelestarian satwa dilindungi itu.

Perburuan penyu kata dia masih marak di perairan Bengkulu dan Pulau Enggano yang juga habitat bertelurnya.

Ia mengatakan, khusus di Pulau Enggano perburuan semakin mengkhawatirkan sebab pembunuhan terhadap satwa itu tidak hanya untuk kepentingan adat tapi sudah dikomersilkan.

Ketua Tim Patroli BKSDA Bengkulu Resor Pulau Enggano Rendra Regen Rais mengatakan perburuan penyu secara liar masih tinggi di pulau terluar itu.

"Sebenarnya kami sudah membahas ini dengan tetua adat agar keberadaan penyu dalam menu pesta adat hanya sebagai syarat, bisa hanya satu ekor untuk setiap pesta," katanya.

Regen mengatakan, dari hasil patroli BKSDA Bengkulu Resor Enggano ditemukan adanya pembunuhan penyu untuk diperdagangkan dengan barang bukti kepala dan kerapas satwa yang biasanya ditinggalkan pemburu di pinggir pantai.

Faktor lain yang mengancam kelestarian penyu adalah faktor alam yaitu babi hutan dan biawak yang sering memakan telur penyu.

Sumber : Antaranews.com

Habitat Rangkong Indonesia Terancam

Burung Rangkong

Habitat Rangkong Indonesia terancam hilang akibat eksploitasi hutan yang membuat sumber pakannya menjadi berkurang.

"Kegiatan penggundulan hutan tanpa tebang pilih membuat sumber pakan Rangkong banyak yang rusak. Kondisi ini membuat rangkong semakin terjepit dan mulai kehilangan habitatnya," kata Dwi Mulyawati Bird Conservation Officer Burung Indonesia dalam siaran pers yang dikirim melalui pesan elektroniknya, Sabtu.

Dwi mengatakan, Rangkong merupakan hidupan liar yang sangat berjasa pada regenerasi hutan. Tanpa Rangkong, diperkirakan hutan akan segera hancur dan potensi yang terkandung didalamnya ikut tergusur.

Banyak jenis pohon yang kelanjutan hidupnya bergantung pada hewan pemakan buah dalam penyebaran bijinya.

"Menurut para peneliti Rangkong dijuluki sebagai petani hutan karena kehebatannya menebar biji," kata Dwi.

Lebih lanjut, Dwi menjelaskan seekor Rangkong dapat terbang dalam radius 100 km persegi. Artinya, burung yang termasuk dalam keluarga Bucerotidae ini dapat menebar biji hingga 100 km jauhnya.

Penelitian yang dilakukan di kawasan hutan produksi menunjukkan, sumber pakan Rangkong menyusut hingga 56 persen karena berkuranganya pohon pakan sebanyak 76 persen.

Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), dari 13 jenis Rangkong yang ada di Indonesia, Julang Sumba (Aceros everetti) merupakan jenis terancam punah yang masuk pada kategori rentan (Vulnerable/VU).

Di Indonesia, Rangkong disebut juga dengan Julang, Enggang, atau Kangkareng

"Jenis yang hanya dijumpa di Pulau Sumba ini diperkirakan hanya tersisa kurang dari 4.000 ekor dengan kepadatan rata-rata enam ekor per km persegi," ujar Dwi.

Dwi menambahkan, Rangkong merupakan jenis burung yang melakukan kegiatan tersebutt. Tanpa peran Rangkong, bisa dipastikan jenis pohon tertentu akan lenyap karena induk pohon yang menua akan mati tanpa pengganti.

Buah Ara merupakan salah satu pakan favorit Rangkong yang tersedia hampir sepanjang tahun.

Diperkirakan, ada 200 jenis pohon Ara yang menjadi pakan utama Rangkong. Dan bila dibanding burung lainnya, Rangkong dianggap paling mampu dalam menebarkan biji ara, karena daya jelajahnya yang tinggi.

"Menurut Margaret F. Kinnaird dan Timothy G. O`Brien, peneliti Rangkong dan hutan tropis, terdapat korelasi erat antara Rangkong dengan hutan yang sehat," kata Dwi.

Burung Rangkong termasuk dalam Famili Bucerotidae, kelompok burung berukuran besar yang mudah dikenali, terutama dari cula (casque) pada pangkal paruhnya. Di seluruh dunia terdapat 55 jenis yang tersebar di kawasan tropis Asia dan Afrika.

Tercatat ada 13 jenis Rangkong yang ada di Indonesia. Sembilan jenis di Sumatera: Enggang Llihingan, Enggang Jambul, Julang Jambul-Hitam, Julang Emas, Kangkareng hitam, Kangkareng Perut-Putih, Rangkong Badak, Rangkong Gading, dan Rangkong Papan. Empat jenis lagi berada di Sumba (Julang Sumba), Sulawesi (Julang dan Kangkareng Sulawesi), serta Papua (Julang Papua). Kalimantan memiliki jenis Rangkong yang sama seperti Sumatera, kecuali Rangkong Papan.

Burung Indonesia adalah organisasi nirlaba dengan nama lengkap Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Birdlife Indonesia Association) yang menjalin kemitraan dengan BirdLife International, yang berkedudukan di Inggris.

Sumber : Antaranews.com