Senin, 06 Juni 2011

Siswa SMA Juarai Lomba Festival Komputer Indonesia

Ilustrasi
 
Siswa kelas dua sekolah menengah atas (SMA) asal Surabaya menjuarai lomba teknologi informasi pada pameran komputer skala nasional dengan tema "Festival Komputer Indonesia (FKI) 2011".

"Siswa dengan nama Kelvin Syahputra, berhasil mengalahkan saingan beratnya yang berasal dari portal kaskus bernama Ndoz dalam perlombaan `Jagoan IT`," kata perwakilan Dyandra Promosindo, penyelenggara pameran "FKI 2011", Primasary, di Surabaya, Minggu malam.

Menurut Primasary, atas kemenangannya sebagai juara pertama, Kelvin berhak membawa pulang satu unit iPad 64 Gigabyte/GB.

"Sementara, pemenang kedua mendapatkan external hard disk 1 terra," ujarnya.

Pemenang ketiga juga merupakan siswa SMA di Surabaya bernama M Faris. Berkat kemenangannya, ia berhak mendapatkan satu unit hard disk berkapasitas setengah terra.

"Selain melaksanakan lomba pengetahuan TI melalui `Jagoan IT`, kami juga memberikan apresiasi bagi rekan - rekan jurnalis yang meliput penyelenggaraan 'FKI 2011', berupa lomba konten (penulisan berita) dan foto," katanya.

Namun, tambah dia, peserta lomba konten dan foto berkaitan dengan "FKI 2011" di Surabaya sengaja dibatasi, yakni hanya mereka yang berkecimpung di media "online".

"Untuk lomba konten, juara pertama diraih Natalia dari www.kabargress.com, juara kedua Norma dari www.detiksurabaya.com, dan pemenang ketiga Denny Sagita dari www.kabarbisnis.com," katanya.

Sumber : Antaranews.com

10.452 Siswa Miskin Dapat Bantuan Beasiswa

Ilustrasi

Sedikitnya 10.452 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berasal dari keluarga kurang mampu di Sumatera Utara akan mendapat beasiswa miskin dari pemerintah dengan besaran anggaran Rp65 ribu per bulan.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Tinggi (Dimenti), Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Latifah, di Medan, Senin, mengatakan pihaknya akan menyalurkan bantuan beasiswa miskin kepada sepuluh ribuan siswa tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di daerah itu.

"Jumlah siswa SMK di Sumut tercatat sebanyak 261.323 orang. Yang mendapat beasiswa miskin yakni empat persen dari jumlah itu. Jadi jumlahnya sekitar sepuluh ribu lebih yang mendapat beasiswa miskin," katanya.

Ia mengatakan, beasiswa tersebut diberikan kepada siswa miskin selama setahun dengan besaran dana Rp65 ribu per bulan. Namun demikian, kata dia, penyelurannya belum bisa dilakukan karena Disdik Sumut masih menunggu proposal yang akan diajukan oleh kabupaten/kota.

"Kita juga masih dalam tahap sosialisasi kepada kabupaten/kota. Sosialisasi tahap pertama sudah kita lakukan pada Mei lalu dan diikuti 396 peserta. Sementara sosialisasi tahap kedua juga akan dilakukan pada awal Juni ini dengan target peserta 380," katanya.

Ia mengatakan, dana beasiswa yang berasal dari APBN itu juga dianggarkan untuk bantuan bantuan praktik siswa SMK dengan jumlah Rp60.000 per siswa dalam setahun dan diperuntukkan bagi 223.000 siswa SMK di Sumut.

"Bantuan praktek ini diperuntukkan untuk mendukung operasional kegiatan siswa, khususnya sarana dan prasarana. Misalnya, melengkapi laboratorium atau pendukung belajar siswa," katanya.

Pada tahun lalu, katanya, anggaran bantuan praktik kepada siswa jenjang SMK sebesar Rp120.000 per siswa untuk setahun. Namun pada tahun ini, pemerintah pusat hanya menganggarkan Rp60.000 per siswa dalam setahun dengan target jumlah total siswa yang sama.

Kepala Sekolah SMK 2 Medan, Sukardi, mengatakan pihaknya juga sudah mengetahui informasi soal dana bantuan siswa miskin tersebut. Pihaknya mendapat kuota sebanyak 70 orang dari total siswa di sekolah itu sebanyak 1.600.

"Saat ini kita sedang mengajukan dan masih menyusun berkas. Proses pencairannya bisa disalurkan ke rekening siswa langsung tapi bisa juga melalui rekening sekolah dengan catatan harus ada surat kuasa," katanya.
COPYRIGHT © 2011 
Editor: Ella Syafputri
Sumber : Antaranews.com

Empat Kelelawar Indonesia Sulit Dijumpai

Ilustrasi 

Dari 225 jenis kelelawar yang ada di Indonesia, empat jenis diantaranya sudah sangat sulit dijumpai dan diperkirakan terancam punah.

Empat jenis spesies kelelawar yang terancam punah itu antara lain jenis Otomops Johstonoi dari Flores dan Alor Sulawesi, Neoptenus Trostii dari Sulawesi, Rouseptus Linduenst dari Danau Lindu Sulawesi dan Otomops forrmosus dari Jawa.

"Keempat kelelawar ini, kini sudah sangat sulit ditemukan lagi," kata Pakar Kelelawar dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Ibnu Maryanto, dalam jumpa pers International South-East Asian Bat Confrence di Hotel Royal Bogor, Senin.

Ibnu mengatakan, kedua jenis kelelawar tersebut sudah sulit ditemukan sejak 5 hingga 10 tahun yang lalu.

Beberapa faktor yang menyebabkan rusaknya populasi kelelawar Indonesia adalah ekspoitasi hutan dan penambangan di wilayah batu kapur yang merupakan tempat habitat kelelawar.

Lebih lanjut, Ibnu menjelaskan, Kelelawar memiliki peranan penting dalam keseimbangan ekosistem dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Kelelawar, salah satu ordo mamalia yang dapat terbang, merupakan salah satu predator alami dan berfungsi menyerbuki tanaman.

Dari 225 jenis kelelawar di Indonesia, 75 jenis diantaranya pemakan buah dan berperan dalam penyerbukan, sisanya 148 jenis pemakan serangga yang secara tidak langsung membantu manusia dalam memberantas hama dan penyakit.

"Dalam satu jam kelelawar bisa memakan 6.000 ekor serangga, bayangkan jika populasi kelelawar hilang, bisa kita prediksikan penyakit seperti malaria akan banyak terjadi," kata Ibnu.

Ibnu menambahkan bahwa koloni besar kelelawar yang menghuni goa-goa batu kapur sangat rentan terhadap gangguan.

"Perubahan yang ditimbulkan oleh ulah manusia akan mempengaruhi kehidupanya," katanya.

Eksploitasi batu kapur guna keperluan industri yang banyak menghancurkan goa-goa di hampir semua kawasan karst di Indonesia merupakan penyebab punahnya jenis-jenis kelelawar, kata Ibnu.

Sementara itu Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Lukman Hakim mengatakan, hilangnya peran kelelawar sebagai hewan penyerbuk kini telah dirasakan.

"Dulu di Kabupaten Bogor khususnya di daerah Parung kita sering menemukan durian Parung. Tapi sekarang durian ini sudah sulit ditemukan," katanya.

Lukman menyebutkan, Indonesia memiliki jumlah jenis kelelawar terbesar di dunia (11 persen jenis kelelawar terdapat di Indonesia) dan besar pula kehilangan karena habitatnya hancur.

Habitat kelelawar yang telah rusak terjadi hampir di setiap wilayah Indonesia, diantaranya, Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi, sebagian besar pohon dan hutan telah beralih fungsi.

Lukman mengatakan, sebagai lembaga penelitian, LIPI memiliki kepedulian terhadap lingkungan telah memperkuat jaringan kerjasama dengan para peneliti kelelawar yang meneliti di kawasan Asia Tenggara.

"Kegiatan konverensi kelelawar harus ditingkatkan mengingat kelelawar memberi manfaat bagi kehidupan manusia," katanya.

Lukman menambahkan, hasil pembahasan pada konverensi tersebut akan menjadi rekomendasi kepada pemerintah untuk melindungi habitat kelelawar.

Konferensi kelelawar berlangsung di Bogor selama 6-9 Juni merupakan konferensi kelelawar Asia Selatan, Tenggara dan Timur adalah yang kedua dilaksanakan. Konferensi pertama telah digelar di Pucket, Thailand 2007 yang membahas semua aspek mulai dari sosial hingga biologi dan zoogeografi.

Pada konferensi kali ini yang berlangsung telah hadir 80 peneliti dari 20 negara, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Philipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Kambogja, Laos, Singapore, India, Cina, Jepang, Taiwan, USA, Canada, Inggris, Australia, Pakistan dan Vanuatu.

Sumber : Antaranews.com

70 Persen Primata Indonesia Terancam Punah

Primata Indonesia

Sekitar 70 persen primata yang hidup dan berkembang di Indonesia terancam punah akibat rusaknya habitat primata serta penangkapan secara ilegal untuk kemudian diperdagangkan secara bebas.

Menurut Direktur ProFauna Indonesia Rosek Nursahid, Senin, populasi primata di dunia ada sekitar 200 jenis dan 40 jenis di antaranya berada di Indonesia. Namun, dari 40 jenis itu sekitar 70 persennya terancam punah.

"Sejak tahun 2000, badan konservasi internasional menerbitkan daftar 25 jenis primata yang paling terancam kepunahannya di dunia.Dari 25 jenis primata itu, empat diantaranya adalah primata asal Indonesia, yakni jenis orangutan Sumatera (Pongo Abeli), Tarsius Siau (Tarsius Tumpara), Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), dan Simakubo (Simias cocolor)," kata Rosek di sela-sela aksi kampanye pelestarian primata di Jalan Veteran, Kota Malang.

Dalam aksi (kampanye)-nya itu puluhan aktivis ProFauna tersebut membawa poster bergambar aneka jenis primata, seperti orangutan, lutung jawa, bekantan, kukang, dan monyet ekor panjang. Selain itu juga membagikan brosur dan stiker kepada masyarakat yang melintasi jalan tersebut.

Lebih lanjut Rosek mengatakan, beberapa jenis primata tersebut akan benar-benar punah dari alam jika tidak ada upaya nyata untuk menyelamatkannya.

Menurut dia, salah satu faktor utama semakin terancam punahnya primata Indonesia adalah perdagangan primata, karena sebagian besar primata yang diperdagangkan adalah hasil tangkapan dari alam.

Setiap tahunnya ada ribuan primata dari berbagai jenis yang ditangkap dari alam untuk diperdagangkan sebagai satwa peliharaan atau juga dimakan dagingnya.

Beberapa jenis primata masih diburu untuk diambil dagingnya misalnya lutung jawa, monyet ekor panjang, lutung Sumatera dan beruk. Daging primata dipercaya juga sebagai obat penyakit seperti asma, walaupun sama sekali tidak ada bukti ilmiah yang mendukung hal ini.

Rosek mengungkapkan, primata yang diperdagangkan kebanyakan masih bayi atau anak-anak, karena masih terlihat lucu dan ada banyak kemiripan dengan manusia. Walaupun seringkali ketika beranjak dewasa primata yang dipelihara oleh masyarakat tersebut kemudian akan ditelantarkan atau bahkan dibunuh.

Di pasaran harga primata bervariasi, semakin langka maka harganya akan semakin mahal. Seekor lutung jawa dijual seharga Rp 200.000, kukang Rp200.000 hingga Rp300.000, owa Rp1 juta, dan orangutan diatas Rp2 juta per ekor.

"Sebagian besar primata Indonesia sudah dilindungi undang-undang, yang artinya primata tersebut tidak boleh diperdagangkan atau dipelihara sebagai satwa peliharaan. Perdagangan primata yang dilindungi itu adalah tindakan kriminal dan sarat dengan kekejaman terhadap primata," tegasnya.

Menurut UU tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku perdagangan termasuk yang memelihara satwa dlindungi itu bisa dikenakan hukuman pidana penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

"Kami akan terus melakukan kampanye untuk menghentikan perdagangan primata yang bukan hanya menyebabkan primata tersebut semakin terancam punah, tetapi juga karena perdagangan primata itu penuh dengan kekejaman dan penderitaan primata. Semakin banyak primata yang dibeli masyarakat, maka akan semakin banyak primata yang ditangkap dari alam," ujar Rosek.
 
Sumber : Antaranews.com

ProFauna: Jangan Beli Primata

Puluhan Aktivis Peduli Satwa dari ProFauna Indonesia menggelar Demo di Jl Veteran Kota Malang, Jawa Timur, Senin (6/6/2011). Mereka mengecam perdagangan Primata di berbagai daerah di Indonesia. 
 
Maraknya perdagangan primata di sejumlah daerah di Indonesia mengancam kelangsungan hidup bangsa kera dan monyet. Pasalnya, primata yang diperdagangkan itu kebanyakan adalah hasil tangkapan dari alam. 
 
Karena itulah, puluhan aktivis peduli satwa dari ProFauna Indonesia, Senin (6/6/2011), menggelar aksi di Jalan Veteran, Kota Malang, Jawa Timur.
 
Dalam aksinya, peserta membentangkan poster gambar hewan-hewan primata, seperti kera dan monyet, dengan spanduk bertuliskan "Jangan Beli Primata", "Lestarikan Primata Indonesia", dan "Stop Perdagangan Primata".

Selain mengecam oknum yang melakukan perdagangan primata, pengunjuk rasa juga mengampanyekan agar masyarakat tidak membeli primata atau menjadikannya sebagai hewan peliharaan.

Chairman ProFauna Indonesia, Rosek Nursahid, ditemui di sela aksi, menyampaikan bahwa di dunia terdapat sekitar 200 jenis primata. Sekitar 40 jenis atau hampir 25 persen di antaranya hidup di Indonesia. 
"Sayangnya, meskipun kaya akan jenis primata, 75 persen primata Indonesia terancam punah akibat berkurang atau rusaknya habitat primata dan akibat ditangkap secara ilegal untuk diperdagangkan," katanya.

Sejak tahun 2000, badan Conservation International menerbitkan daftar 25 jenis primata yang paling terancam punah di dunia. "Dari 25 jenis primata itu 4 di antaranya berasal dari Indonesia, yaitu orangutan Sumatera (Pongo abelii), Tarsius Siau (Tarsius tumpara), Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), dan Simakuba (Simias concolor)," jelasnya.

Menurut Rosek, perdagangan primata di Indonesia adalah penyebab utama punahnya bangsa primata. Setiap tahun ada ribuan primata dari berbagai jenis yang ditangkap dari alam untuk diperdagangkan sebagai satwa peliharaan atau juga dimakan dagingnya.

"Beberapa jenis primata masih diburu untuk diambil dagingnya, misalnya lutung jawa, monyet ekor panjang, lutung sumatera, dan beruk. Daging primata dipercaya juga sebagai obat penyakit seperti asma, walau sama sekali tidak ada bukti ilmiah yang mendukung hal ini," katanya.

Kebanyakan primata yang diperdagangkan sebagai hewan peliharaan masih bayi atau anak-anak karena masih lucu. "Sering kali ketika beranjak dewasa, primata yang dipelihara oleh masyarakat itu kemudian ditelantarkan atau bahkan ada yang dibunuh," katanya.

Lebih lanjut Rosek mengaku, di pasaran, harga primata bervariasi, semakin langka, maka harganya semakin mahal. Misalnya, seekor lutung jawa dijual seharga Rp 200.000, kukang Rp 200.000 hingga Rp 300.000, owa Rp 1 juta, dan orangutan di atas Rp 2 juta. Padahal, kata Rosek, primata sudah dilindungi UU, yang artinya primata tidak boleh diperdagangkan atau dipelihara sebagai satwa peliharaan.

"Dalam UU Nomor 5 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem Tahun 1990, perdagangan primata itu bisa dikenai hukuman pidana 5 tahun penjara, dengan denda Rp 100 juta," tegasnya.

Sumber : Kompas.com
 

Koala Makin Terancam

 Koala

Koala kini makin terancam. Populasi hewan itu diyakini tak lebih dari 100.000 ekor. Di wilayah Gold Coast, Queenslands, Australia, populasi koala diyakini telah menurun sebesar 80 persen dalam kurun waktu 10-15 tahun belakangan. Bila sebelumnya ilmuwan bisa menjumpai 30-50 ekor koala di habitat mereka, maka kini mereka hanya bisa melihat 3-4 ekor.
Ada beberapa faktor yang mengancam populasi koala. Konversi lahan menjadi permukiman, kawasan industri, dan pertanian adalah beberapa penyebabnya. Koala juga terancam oleh serangan chlamydia yang bisa menyebabkan kemandulan serta retrovirus serupa HIV yang bisa menyebabkan beragam infeksi dan kanker.
Kini, dengan adanya perubahan iklim, ancaman kelestarian koala semakin besar. Koala kurang mampu bertahan pada suhu tinggi dan kering sehingga mudah mengalami stres dan dehidrasi. Suhu tinggi juga menyebabkan kelembaban pada daun eucalyptus berkurang sehingga koala makin kesulitan mendapatkan air.
Christine Hosking, pakar konservasi dari Universitas Queensland, mengatakan, "Sekali temperatur melebihi 37 derajat celsius, maka tak ada kemungkinan hidup lebih baik bagi koala. Seiring kita mendapati temperatur ekstrem dan kekeringan ini, maka koala tak akan mampu menyesuaikannya."
"Spesies ini harusnya mudah dijumpai, tapi kini ancaman menuju kepunahan ada di depan mata," tambah Hosking seperti dikutip The Independent, Minggu (29/5/2011). Tanpa upaya pelestarian yang serius, bukan tak mungkin koala akan benar-benar punah. Jika upaya pelestarian tak segera dilakukan dan menunggu hingga populasinya di bawah 10.000 ekor, maka langkah pelestarian bisa jadi sudah sangat terlambat.
Pakar ekologi Universitas Queensland Clive McAlpine mengatakan, memasukkan koala sebagai spesies yang terancam punah bisa menjadi langkah awal yang bagus. Langkah itu akan mempermudah upaya perlindungan habitat koala serta mencari pendanaan untuk melakukan penelitian tentang chlamydia

Sumber : Kompas.com