Selasa, 10 Mei 2011

Menembus Dinginnya Dieng...


Perjalanan tanpa rencana kali ini membawa saya ke dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Dengan menumpang mobil travel dari Yogyakarta (tarif Rp 40.000), Wonosobo bisa ditempuh dalam waktu sekitar tiga jam. Saya pergi berdua dengan seorang teman, dia adalah satu-satunya yang mengiyakan ajakan mendadak saya untuk jalan-jalan. Teman-teman lain absen tak bisa ikut. Wajar saja, saya memang baru mengajukan ajakan itu di malam sebelumnya.
Mobil travel berhenti di perempatan PDAM Wonosobo dan dari situ kami naik bus jurusan Dieng. Sebenarnya bus itu juga bisa ditemukan di terminal, hanya saja lokasi terminal lebih jauh dan biasanya harus menunggu bus ngetem dan akan memakan waktu lebih lama. Tarif umum Wonosobo-Dieng adalah Rp 7.000 saja, itu kata teman saya yang pernah tinggal beberapa lama di Dieng. Akan tetapi, wisatawan harus berhati-hati karena kondektur biasanya menaikkan tarif semena-mena kepada wisatawan atau siapapun yang terlihat seperti pendatang.
Satu jam kemudian, kami sampai di Dieng. Ada berbagai pilihan penginapan yang harganya beragam, di antaranya bahkan sangat terjangkau. Saya memilih Hotel Asri yang terletak di depan Masjid Jami Baiturrohman, Dieng. Jangan bayangkan hotel bintang lima, hotel ini merupakan bangunan rumah lama namun bersih dan layak tinggal. Harga per malamnya yaitu Rp 60.000 untuk kamar dengan kamar mandi luar dan Rp 75.000 dengan kamar mandi dalam. Kami memilih yang kedua.
Telaga Warna
Telaga Warna menjadi tempat wisata pertama yang kami kunjungi di Dieng. Jaraknya sekitar 500 meter dari hotel sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Setelah berjalan beberapa saat, kami melihat sebuah pos kecil dan tanda panah bertuliskan “Telaga Warna”, maka kami pun menuju ke sana. Saya sempat berpikir, “Kok tempat masuknya aneh ya? Tidak ada papan ‘selamat datang’ atau pintu masuk sebagaimana di tempat wisata biasanya”. Lalu di situ ada seorang Bapak yang memberi tahu bahwa untuk masuk Telaga Warna kami harus membayar Rp 5.000.
Memasuki kawasan Telaga Warna, awalnya kami kecewa. Tempatnya seperti tidak terurus, dan sebagian besar tanahnya becek, ditambah bau belerang dari batuan yang ada di situ. Kami berdua saling memandang dan…mencoba tertawa! Menikmati hal-hal tidak mengenakkan selama traveling adalah sebuah seni tersendiri. Akhirnya kami berfoto dan mencari angle sebagus mungkin supaya tempat ini tidak terlihat terlalu mengecewakan. Ditambah cuaca kurang bersahabat, suasana menjadi makin suram.
Ternyata… tempat kami masuk tadi memang bukan area yang biasa dikunjungi wisatawan. Dari pintu masuk, seharusnya kami belok kanan, eh kami tadi malah belok kiri. Ternyata (lagi) bagian lain dari telaga itu memang indah. Akhirnya kami duduk-duduk sambil menikmati pemandangan Telaga Warna yang telaganya menunjukkan gradasi warna hijau yang berbeda.
Keluar dari Telaga Warna, kami baru tersadar bahwa ada pintu lain yang memang resmi untuk keluar-masuk wisatawan, dengan tarif yang juga Rp 5.000 (jadi yang tadi tempat kita masuk itu apa dong?). Berhubung perut kami sudah demo minta makan, kami cap-cip-cup memilih tempat makan. Kami memesan nasi goreng yang rasanya biasa-biasa saja seharga Rp 10.000. Tapi untuk ukuran tempat wisata, harganya tidak terlalu selangit kok.
‘Mandi Asap’ di Kawah Sikidang
Tujuan berikutnya adalah Kawah Sikidang. Hujan rintik-rintik ketika kami berjalan menuju loket Telaga Warna yang tidak jauh dari situ. Tujuannya adalah hendak bertanya kepada petugas tentang tarif ojek menuju Kawah Sikidang. Sengaja kami tidak bertanya tukang ojek, karena biasanya mereka menawarkan harga yang tak wajar (tips: tanyalah tarif pada penduduk lokal).
Tiba-tiba ada seorang Bapak berkumis dan berjaket tebal mendekati kami. Ia menawarkan naik motornya ke kawah. Dia minta Rp 10.000, tapi kami menawar dengan alasan menurut petugas loket tarifnya hanya Rp 5.000. Akhirnya dia setuju dengan harga itu asalkan langsung dibonceng berdua, jadi semotor bertiga. Jadi intinya satu motor tetap Rp 10.000. Ya sudahlah kami setuju.
Melewati pos masuk Kawah Sikidang, kami tidak berhenti untuk membayar karcis. Saya penasaran dan bertanya, “Kok nggak berhenti, Pak?” Lalu dia menjawab, “Tadi saya bilang mbak-mbak ini saudara saya yang sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata) di sini, jadi ndak usah bayar. He-he.. Kalau ada yang bertanya bilang saja Mbak ini saudaranya Pak Mustaqim.” Akhirnya sejak detik itu kami resmi menjadi saudara Pak Mustaqim. He-he…
Sesampainya di kawasan kawah, kami turun dari motor. Pak Mustaqim memberikan nomor ponselnya dan menyarankan supaya nanti SMS saja kalau kami sudah mau pulang. Nanti dia akan menjemput lagi ke sini dan mengantar sampai hotel dengan tarif yang sama. Kami pun setuju. Lalu kami bersenang-senang dan ‘mandi asap’ di Kawah Sikidang. Brrrr…udaranya super dingin... Saya kurang persiapan, pergi ke Dieng tanpa membawa jaket tebal, kaus kaki, dan sarung tangan. Saya hanya mengandalkan sebuah cardigan yang sedikit menghangatkan.
Waktu menunjukkan hampir pukur 5 sore ketika akhirnya kami dijemput lagi oleh Pak Mustaqim. Di perjalanan pulang, ia bertanya apakah besok pagi kami mau melihat sunrise. Kami benar-benar tidak punya informasi mengenai hal itu sebelumnya. Maka ia menawarkan untuk antar-jemput lagi besok. Katanya justru turis-turis asing yang menginap di Dieng itu salah satu tujuannya ingin melihat matahari terbit di Puncak bernama Sikunir. Kami pun bersemangat dan langsung setuju.
Berburu Sunrise di Puncak Sikunir
Mampir di Telaga Cebong Udara di Dieng benar-benar dingin. Jangankan untuk mandi, berwudhu saja menjadi perjuangan tersendiri. Setiap air menyentuh kulit, rasanya ngilu seperti ditusuk-tusuk. Pagi itu saya terbangun sebelum adzan subuh. Ponsel saya berbunyi, ternyata itu adalah panggilan dari Pak Mustaqim. Katanya pagi itu langit cerah dan kita jadi menuju Puncak Sikunir. Senang sekaligus prihatin mengingat outfit yang tidak mendukung. Akhirnya saya pinjam kaus kaki teman, lalu mengenakan pakaian beberapa lapis. Setelah selesai solat Subuh, Pak Mustaqim sudah menunggu di depan hotel.
Saya agak lupa berapa lama waktu yang ditempuh dari hotel ke Sikunir. Tapi yang jelas membayar Rp 30.000 per orang untuk perjalanan itu sangat sebanding dengan apa yang saya dapatkan. Lagi pula lokasinya cukup jauh dan medannya agak sulit. Jalannya jelek dan naik-turun. Sepanjang perjalanan di motor, kaki saya rasanya mati rasa, kaus kaki tipis itu tidak cukup menghangatkan.
Kami sampai di area pendakian sekitar jam lima lewat sedikit. Pak Mustaqim menemani kami naik sampai ke Puncak. Hmm.... lumayan nih melatih kaki lagi setelah lama tidak mendaki gunung. Sesampainya di Puncak, selalu ada sensasi yang luar biasa. Pemandangannya sangat indah. Dari Puncak Sikunir, terlihat Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, serta pemukiman di mana terlihat rumah-rumah dan perkebunan membentang. Kami harus menunggu beberapa saat di Puncak sampai matahari muncul dengan cantiknya.
Sekitar pukul 7 kami turun dari puncak untuk menuju ke telaga Cebong yang terletak tak jauh dari jalan menuju puncak. Kami sekalian berjalan kaki ke sana karena kebetulan Pak Mustaqim memarkirkan motornya di dekat telaga. Udara pagi yang sejuk dicampur sinar matahari yang belum lama terbangun, membuat udara dingin Dieng sedikit terhangatkan. Telaga Cebong memantulkan bayangan dari pepohonan dan bukit-bukit di sekitarnya, melengkapi keindahan pagi itu.
Candi Arjuna
Setelah merasa cukup duduk-duduk dan berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke Candi Arjuna. Pak Mustaqim mengantarkan kami ke sana kemudian ia langsung pulang karena jam delapan ia harus bekerja. Matahari sudah mulai terik ketika kami sampai di candi. Pak Mustaqim berpamitan setelah ia menunjukkan kepada kami sebuah rumah makan di sekitar candi agar kami bisa sarapan dahulu. Kami mengucapkan terima kasih dan langsung memesan makanan.
Karena kami datang masih cukup pagi, candi pun masih terbilang sepi. Hanya ada beberapa penduduk lokal yang berjalan-jalan pagi di sana dengan membawa serta anak-anaknya yang masih kecil. Kami pun bisa dengan leluasa mengeksplor candi tersebut sampai berfoto narsis.
Telaga Menjer
Kami beranjak meninggalkan Dieng setelah dzuhur. Tujuan selanjutnya adalah Telaga Menjer yang terletak di desa Menjer, 12 kilometer dari Dieng ke arah Wonosobo. Menuju Telaga Menjer, kami mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan. Seperti biasa, kami sudah bertanya ke penumpang lain di bus berapa tarif yang harus kami bayar sampai di Pasar Garung. Katanya tarifnya hanya Rp 2.000. Dan lagi-lagi kondektur menaikkan tarif, kali ini bahkan tiga kali lipat dari yang sewajarnya.
“Lho, kok kembaliannya cuma segini? Kan harusnya cuma bayar 2 ribu,” protes saya.
Si kondektur terlihat kaget karena saya tahu tarif yang sebenarnya. Lalu dia berdalih, “Yah..itu kan buat penumpang yang biasa langganan naek bus setiap hari.” Alasan basi.
Begitu turun di Pasar Garung, saya meminta uang kembalian lagi dan akhirnya ia memberikan saya beberapa lembar uang yang setelah dihitung jumlahnya masih kurang dari yang seharusnya. Tapi bus itu mulai beranjak pergi. Saya dan teman saya hanya bisa mendoakan semoga si kondektur segera kembali ke jalan yang benar. Baiklah, mari kita lupakan kondektur itu. Sekarang kita menuju ke Telaga Menjer. Kami diberi tahu ibu-ibu untuk naik angkot berwarna biru menuju telaga, katanya tarifnya nggak lebih dari Rp 2.000. Untunglah kali ini kondekturnya jujur. Tarif untuk sampai ke telaga adalah Rp 1.500 per orang (kaget zaman sekarang masih ada tarif angkot semurah itu).
Tarif masuk Telaga Menjer cukup Rp 2.000 saja. Tempatnya indah, tetapi lebih sepi pengunjung dibandingkan Telaga Warna di Dieng. Sesampainya di sana, kami disambut bapak-bapak berperahu yang menawarkan untuk menyusuri telaga dengan tarif Rp 5.000 saja. Kami langsung setuju tanpa protes karena menganggap itu harga yang wajar. Wah udaranya sejuk, suasananya tenang, hanya terdengar suara air yang gemericik dilewati perahu. Sayang ya tempat-tempat bagus di Indonesia seringkali kurang terdeteksi dan kurang promosi. Jangankan turis asing, turis lokal saja banyak yang tidak tahu.
Mencari Oleh-oleh Khas Wonosobo
Hujan turun rintik-rintik ketika kami baru turun dari perahu. Kami pergi ke toko oleh-oleh bernama “Aneka” yang direkomendasikan oleh teman saya yang orang Wonosobo. Ternyata oleh-oleh makanan di sana cukup lengkap dan semuanya menggiurkan. Makanan Wonosobo memang enak-enak, dari mulai keripik dan berbagai cemilan dari kentang sampai manisan carica yang paling terkenal. Carica sendiri adalah buah yang masih saudara dengan pepaya. Pohonnya pun mirip pohon pepaya tetapi dengan ukuran lebih kecil. Saya baru pertama melihat langsung pohonnya di dekat Telaga Cebong. Berhubung uang sudah pas-pasan, saya hanya membeli beberapa gelas carica dan cemilan sebagai oleh-oleh untuk anak kost.
Satu lagi yang sayang untuk dilewatkan di Wonosobo adalah mencicipi Mie Ongklok. Saya yang saat itu masih agak kenyang, hanya mencicipi mie yang dibeli oleh teman saya. Ternyata mie tersebut sangat enak. Seperti mie ayam tetapi dengan sayuran lebih banyak dan dicampur sate ayam dengan bumbu kacang. Benar-benar mantap dimakan panas-panas. Kuahnya juga sangat berasa, bercampur dengan rasa kacang dari bumbu sate.
Selesai makan, teman saya bilang, “Mbak, katanya kenyang? Tapi makannya banyak…”
Saya baru tersadar.. Oh iya ya… sepertinya kegiatan icip-icipnya sampai setengah mangkok. Setelah kenyang, saatnya pulang ke Jogja. Hujan menemani kepulangan kami. Perjalanan ke Dieng ini sungguh tak terlupakan.

Sumber: Kompas.com

Koridor Habitat Gajah Dirambah


Habitat gajah yang berfungsi sebagai koridor antara Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat dan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di Kabupaten Bengkulu Utara dirambah. Hal ini dapat menyebabkan tingginya konflik satwa, terutama gajah dengan manusia.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Amon Zamora, Kamis (5/5/2011), mengatakan, sudah ada sekitar 500 keluarga yang menghuni koridor gajah tersebut. Sebagian koridor yang berupa hutan tersebut sudah ditanami kelapa sawit.
"Kami hanya bisa mengimbau perambah untuk keluar dari koridor itu sebab konflik antara satwa dan manusia di lokasi tersebut sangat mungkin terjadi," kata Amon.
Amon juga menyayangkan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara yang tidak berbuat apa-apa terhadap perambahan di koridor gajah itu.
Apabila koridor gajah sudah sepenuhnya dikuasai perambah, habitat gajah semakin sempit, hanya di kawasan PLG Seblat yang seluas 6.865 hektar. Hal ini bisa menyebabkan seringnya konflik gajah dengan manusia terjadi, apalagi PLG Seblat sudah dikelilingi kebun sawit milik beberapa perusahaan swasta.
Selama ini koridor seluas lebih kurang 12.000 hektar itu merupakan jalur gajah dan satwa lainnya dari PLG Seblat, seperti harimau dan beruang madu, untuk mencari makan ke wilayah TNKS. Keberadaan permukiman di koridor itu tentu menjadi penghalang satwa tersebut ketika menuju TNKS.
Saat ini PLG Seblat masih berstatus hutan produksi dengan fungsi khusus. Hutan seluas 6.865 hektar itu merupakan habitat sekitar 70 gajah sumatera liar dan lebih kurang 18 gajah binaan.
Sebenarnya, sejak tahun 2004 BKSDA sudah mengusulkan peningkatan status PLG Seblat dari hutan produksi dengan fungsi khusus menjadi suaka margasatwa. Akan tetapi, upaya tersebut terganjal tiadanya rekomendasi dari Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Utara. Adapun rekomendasi dari Pemerintah Kabupaten Muko Muko sudah sejak lama diberikan.
Koordinator PLG Seblat, Supartono, menambahkan, pada tahun 2008 Pemprov Bengkulu pernah memberikan rekomendasi, tetapi setahun kemudian rekomendasi tersebut dicabut. 
Kematian gajah
Tekanan yang besar terhadap habitat gajah di PLG Seblat selama ini meningkatkan risiko konflik gajah dengan manusia. Lingkungan hutan yang banyak berubah pun mengganggu kelangsungan hidup gajah sumatera di PLG Seblat.
Selama Maret 2011, misalnya, empat gajah liar dari PLG Seblat mati keracunan pupuk. Satu dari empat bangkai gajah tersebut ditemukan di Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis atau lokasi perkebunan sawit PT Sapta Buana (Alno Group).
Adapun tiga bangkai gajah lainnya ditemukan di areal hutan peruntukan lain seluas 500 hektar yang terletak antara PLG Seblat dan PT Sapta Buana tanggal 31 Maret 2011.
Profauna Bengkulu mencatat, kematian empat gajah tersebut menambah daftar gajah sumatera yang mati sejak 2004. Pada kurun 2004-2007 ada tujuh gajah yang mati. Kemudian pada tahun 2009 ada dua gajah yang mati. Setahun kemudian satu gajah mati lagi. Tahun ini, hingga bulan Maret telah empat gajah yang mati.

Sumber : Kompas.com

Ikan Anakan di Wakatobi Tereksploitasi

Taman Nasional Laut Wakatobi di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, memiliki pemandangan alam bawah air yang eksotis, Rabu (4/5). Hal ini harus didukung dengan pengaturan perikanan tangkap yang ramah lingkungan untuk menjaga biodiversitas alam salah satu segitiga                   karang dunia itu.

Informasi minim dan ketiadaan pengaturan penangkapan ikan yang baik membuat sumber daya hayati laut di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, terancam. Bertahun-tahun, ikan belum dewasa atau juvenile ditangkapi. Kini, nelayan beralih ke budidaya rumput laut.

Tahun 2007-2010 warga bersama Operation Wallacea Trust mengecek perikanan Wakatobi. Hasilnya, 80 persen tangkapan ikan belum dewasa. Bahkan, 100 persen tangkapan ikan kakatua merah belum dewasa.
Tangkapan teripang menurun kualitasnya. Beberapa tahun lalu teripang super berisi tiga ekor per kilogram. Kini, 150 ekor per kg. Lokasi penangkapan pun makin jauh ke luar pulau.
"Ternyata cara kami salah dan harus diubah. Kami orang pulau bergantung pada sumber daya laut. Kalau laut habis, habis pula kami," kata Ketua Forum Kaledupa Taudani (Forkani) La Beloro di Kaledupa Wakatobi, Kamis (5/5/2011).
Koordinator Program WWF, Sugiyanta, menjelaskan, penangkapan juvenile berpotensi menimbulkan kelangkaan ikan karena ikan ditangkap sebelum sempat bertelur. ”Seharusnya, beri kesempatan ikan untuk bertelur sekali dalam hidup,” katanya.
Penangkapan ikan juvenile karena nelayan sulit menangkap ikan dewasa di perairan setempat. Penangkapan dan permintaan ikan berlebihan membuat jumlah tangkapan tak terkontrol. Kondisi itu gambaran umum perikanan tangkap di Wakatobi.
Rumput laut
Kini, nelayan Kaledupa mulai budidaya rumput laut yang dikenalkan tahun 1990-an. Mereka swadaya memasang tali apung dan dasar untuk menebar benih rumput laut di sekitar pulau. Di Kaledupa dan Derawa, tali-tali apung tersebar hingga 1 kilometer dari garis pantai.
Menurut Kepala Bidang Pengembangan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wakatobi Bahrul Haer, pihaknya berusaha mengatur perikanan tangkap setempat agar ramah lingkungan. Untuk menghindari penangkapan ikan juvenile, nelayan diminta tak memakai mata jaring berukuran di bawah 1 inci. "Kami sarankan minimal 2 inci. Pelaksanaannya kembali ke masyarakat. Kami sulit mengawasi nelayan satu per satu," ujarnya.
Kabupaten Wakatobi seluas 1,39 juta hektar ada di kawasan Taman Nasional Laut Wakatobi. Pemerintah daerah mendorong budidaya rumput laut karena permintaannya sangat menjanjikan dan lebih ramah lingkungan. Setiap tahun ratusan ton rumput laut kering dijual ke Kabupaten Bau-bau seharga Rp 9.000 per kg.


Sumber : Kompas.com


Harapan Hidup dari Rumput Laut




Pembudidaya rumput laut di Desa Laemanta, Kecamatan Kasimibar, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menebar bibit untuk ditanam di Teluk Tomini, akhir Februari 2011

Mengarungi perairan Pulau Kaledupa dan Wangi-wangi Kabupaten Wakatobi, tali-tali sepanjang ratusan meter yang merangkai bibit rumput laut dengan mudah dijumpai. Bibit yang terangkai dengan tali itu menjadi simbol harapan hidup, tak cuma bagi masyarakat lokal tetapi juga bagi ekosistem laut.

Bagi Saridi, warga Derawa, misalnya, rumput laut kini menjadi sumber penghasilan utama. Dari rumput laut, Saridi bisa menyekolahkan keempat anaknya. "Satu anak saya sekarang kuliah di Makassar. Yang lain masih SMP dan SD. Bayar biaya sekolah dari rumput laut ini.  Sekali panen rumput laut bisa dapat
500 kg sampai 1 ton. Kita jual ke Bau-Bau biasanya, harganya Rp 8.000 per kg," tuturnya.
Rumput laut dijual setelah dikeringkan secara alami selama 3-4 hari menggunakan sinar matahari. Dari Bau-bau, rumput laut akan dikirim ke Surabaya.  Ketua Forum Kaledupa Taudani (Forkani) La Beloro menuturkan rumput laut biasanya panen setelah 45 hari. Kalau sudah dijemur nanti ada pengumpul yang menampung.
Dari rumput laut, uang yang dihasilkan bahkan lebih tinggi dari hasil penangkapan ikan. Budidaya rumput laut di Wakatobi dijalankan sepanjang tahun. Namun, warga mengaku bahwa saat terbaik untuk penanaman adalah saat musim timur.  Pada saat itu, panen bisa lebih besar dan dikeringkan dalam waktu cepat. Kala musim barat, biasanya jumlah hasil panen menurun.
Untuk membudidayakan rumput laut, warga menggunakan wilayah laut yang sesuai. Setiap warga memiliki area menanam sendiri yang diklaim menjadi hak milik berdasarkan siapa yang memakainya terlebih dahulu. Warga biasanya menentukan area dengan melihat arus dan adanya lamun. Saat ini, beberapa warga mengaku bahwa lahan budidaya sudah penuh.
"Kalau orang baru mau menanam sudah susah. Bisa juga beli tapi mahal, bisa 7 juta untuk satu area," kata Saridi.
Cara lain, warga bisa minta ijin atau sewa di area orang lain, namun biasanya tak diijinkan untuk menanam dalam jumlah banyak. Rumput laut sebenarnya sudah dibudidayakan masyarakat Wakatobi sejak lebih dari 10 tahun lalu. Namun, saat dipandang belum menjanjikan, banyak warga masih menggantungkan pada hasil penangkapan ikan. Tak jarang, praktek penangkapan yang merusak dilakukan untuk meningkatkan pendapatan.
"Dulu kita banyak pakai bom dan bius," ungkap Beloro.
Juvenile ikan atau ikan yang belum dewasa kadang juga ditangkap sehingga akhirnya nelayan sulit mendapat ikan. "Pada tahun 2004, kita merasa hampir tidak ada ikan," lanjut Beloro.
Sebuah survei pada tahun 2007-2010 juga menyebut bahwa 80 persen ikan tangkap adalah juvenile. Praktek perusakan lingkungan yang sebelumnya juga marak adalah penambangan karang. Koordinator Progran WWF Wakatobi Sugiyanta mengatakan, "Beberapa tahun kemarin sempat teridentifikasi 72 penambang. Dari jumlah tersebut, 30 di antaranya murni penambang, sementara yang lain hanya sampingan."
Menurut Sugiyanta, ada 3 faktor yang menyebabkan warga menambang. "Pertama karena tidak punya mata pencaharian lain. Kemudian karena lebih lebih mudah mendapat cash dan adanya permintaan," ucap Sugiyanta.
Kini, jumlah penambang memang sudah menurun, tapi belum benar-benar habis. Sugiyanta mengatakan, budidaya rumput laut bisa menjadi suatu alternatif mata pencaharian. Lewat budidaya rumput laut, tekanan terhadap alam akibat eksploitasi ikan dan karang berkurang. Hal ini juga memberi harapan hidup pada ekosistem. Budidaya rumput laut sendiri kini menyisakan tantangan. Bantuan pemerintah kadang tidak tepat.
"Kita tidak butuh tali, tapi pemerintah memberi kita tali. Yang kita butuhkan adalah benihnya yang bagaimana, lalu kepadatannya, kondisi eksosistem yang bagus bagaimana, itu kita buta," kata Beloro.
Menurutnya, yang diperlukan saat ini adalah pengetahuan, terutama pada cara budidaya yang tepat, cara mengatasi hama dan menentukan saat yang tepat untuk mulai menebar bibit. "Sampai sekarang belum ada bantuan seperti itu," kata Beloro yang ditemui dalam media trip bersama WWF Kamis (5/5/11) lalu.
Sementara itu, pembudidaya rumput laut dari Dewara, Jumani mengatakan, "Bantuan pemerintah sering salah sasaran. Pernah ada bantuan pengolahan pasca panen, tetapi yang dilatih justru bidan dan orang lain yang bukan pembudidaya. Seharusnya kita yang dilatih."
Hingga saat ini, belum juga ada bantuan pengering rumput laut. Ini mengakibatkan sulitnya pembudidaya saat harus mengeringkan di musim hujan. "Saat musim hujan, pengeringannya bisa sampai 10 hari," kata Jumani.
Akibat terlalu lama dalam kondisi basah, rumput laut yang dipanen kadang justru rusak. Bantuan untuk meningkatkan hasil budidaya rumput laut diperlukan sehingga benar-benar bisa memberikan penghasilan bagi warga. Dengan memiliki alternatif, tekanan pada ekosistem laut bisa dikurangi sehingga membantu upaya konservasi. Ini sangat krusial dengan status Wakatobi sebagai Taman Nasional. Warga Kaledupa yang terbina dalam Forkani kini sudah memiliki kesadaran pentingnya pengelolaan sumber daya alam.
"Sumber daya alam sangat terbatas. Kalau habis akan berdampak pada kehidupan komunitas. Jika kehilangan alam, komunitas akan keluar, tapi harus kemana. Pindah ke tempat lain, bisa diusir," kata Beloro. Bantuan yang tepat untuk meningkatkan hasil budidaya bisa membantu menyalakan semangat pelestarian itu.

Sumber : Kompas.com

Perusakan Karang Masih Ancam Wakatobi

Kehidupan Suku Bajo di Desa Mola, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Selasa (3/5/2011). Di tempat ini sulit menyebut warga Bajo sebagai suku pengembara. Sebagian warga suku Bajo di Desa Mola tidak lagi hidup di atas laut lepas. Mereka sudah tinggal di dalam rumah berdinding batu bata dan beratap seng
 
 
Aktivitas penambangan karang di Wakatobi masih menjadi ancaman bagi kelangsungan ekosistem laut. Meski jumlah penambang sudah turun, beberapa masih beroperasi, di antaranya yang berasal dari Wangi-wangi.
Koordinator Program WWF Wakatobi Sugiyanta mengatakan, beberapa tahun lalu teridentifikasi 72 penambang karang, 30 di antaranya murni sebagai penambang dan sisanya sebagai sampingan.
"Setelah pembinaan jumlahnya sudah menurun tapi masih ada," kata Sugiyanta. Menurut Sugiyanta, faktor yang mendorong aktivitas penambangan adalah tak adanya pilihan mata pencaharian, lebih mudah mendapat uang dan adanya permintaan dari pasar.
Penambangan kadang juga dilakukan untuk kebutuhan pembangunan pribadi. Aktivitas penambangan biasanya dilakukan dengan linggis dan mengganggu proses budidaya rumput laut. Sugiyanta mengatakan, penambangan membuat air menjadi keruh sehingga mengganggu kesuburan rumput laut yang dibudidayakan warga lain.
Meski penambangan karang jelas dilarang, namun penting menemukan upaya strategis untuk mengajak warga berhenti melakukannya, tak bisa langsung melarang. "Kita sedang upayakan alternatif mata pencaharian, seperti budidaya rumput laut dan ekoturisme," kata Sugiyanta.
Menurut Sugiyanta, jika dibiarkan, penambangan karang akan berdampak negatif pada ekosistem dan warga sendiri. "Dampaknya adalah penurunan jumlah ikan karang. Secara tidak langsung, nanti juga akan berdampak pada kehidupan nelayan," ucap Sugiyanta.
Kepala Bidang Pengambangan Perikanan DKP Wakatobi Bahrul Haer mengatakan, aktivitas penambangan yang juga mengganggu adalah penambangan pasir. Menurutnya, aktivitas penambangan pasir justru lebih sulit diatasi.
"Kalau karang dilarang, untuk membangun masih bisa datangkan batu dari darat. Tapi kalau pasir, masih perlu dicari solusinya," kata Bahrul. Ia mengatakan saat ini masih mengupayakan cara penyelesaiannya, termasuk upaya mendorong perikanan tangkap ramah lingkungan.
Wilayah Wakatobi yang terdiri dari Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongo adalah kawasan Taman Nasional Laut. Penyelesaian masalah lingkungan medorong suksesnya program konservasi wilayah yang masuk dalam kawasan Segitiga Karang Dunia itu.

Sumber : Kompas.com

Duh, Hutan Penelitian Juga Terus Dibabat

Belasan hektar hutan di kecamatan Binuang Polewali Mandar terbakar sejak Minggu (8/0/2011. warga cemas lantaran titik api hanya berjarak beberapa meter dari lokasi pemukiman mereka.
 
Hutan penelitian Southeast Asia Regional Centre for Tropical Biology terus dibakar dan dirambah secara liar. Aktivitas itu dilakukan setiap hari, tapi oleh pelaku dinilai sebagai tindakan legal.
Pantauan Kompas di hutan Seameo Biotrop, Desa Pasir Mayang, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Tebo, Jambi, seluas 2.700 hektar, pada 6-7 Mei 2011, pembakaran berlangsung di sejumlah titik dengan luas lebih dari 20 hektar.
Api membubung tinggi dan cepat meluas karena suhu normal pada siang itu—dalam radius 700 meter dari lokasi—mencapai 40 derajat celsius dan angin bertiup kencang.
Pembakaran lahan juga marak terjadi di hutan sekitarnya, seperti hutan produksi eks hak pemanfaatan hutan PT Industries et Forest Asiatiques, hutan tanaman industri PT Lestari Asri Jaya, dan sebagian areal milik masyarakat.
Peneliti lokal di Biotrop, Miswandi, mengatakan, lahan yang dibakar telah diklaim pelaku dengan membayar sejumlah uang kepada oknum desa. Lahan dibeli dari oknum perangkat desa sekitar Rp 2 juta per hektar. Setelah dikapling, lahan dibakar untuk ditanami sawit atau karet.
Kepala Seksi Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Tebo Sumarjo membenarkan maraknya aktivitas pembakaran dan perambahan hutan di Tebo. "Namun, sulit menindak pelaku karena aktivitas itu berlangsung di banyak lokasi," ujarnya.
Biotrop pada 1990-an merupakan hutan hujan dataran rendah dengan koleksi vegetasi serta satwa sangat lengkap. Hutan primer ini dilengkapi laboratorium penelitian alam untuk analisis vegetasi dan laboratorium kultur jaringan. Pada masa itu, banyak peneliti asing memanfaatkan hutan Biotrop untuk penelitian.
Biotrop rusak sejak penjarahan pada 2003. Tidak sedikit hutan yang gundul karena dicuri kayunya. Laboratorium penelitian yang dibangun sejak 1984 itu kini hanya menyisakan tonggak-tonggak penyangga.
Seameo Biotrop seluas 2.700 hektar merupakan hutan dan laboratorium penelitian yang dibangun PT Industries et Forest Asiatiques selaku pemilik HPH. Penelitian untuk menumbuhkan model dinamika pertumbuhan hutan hujan dataran rendah mengkaji aspek iklim mikro hutan sebagai parameter lingkungan yang memengaruhi kondisi pertumbuhan vegetasi dan hewan, serta mencermati perubahan jangka panjang berupa suksesi atau degradasi hutan. Kini penelitian sulit dilakukan karena hutan hampir habis.
Segera hentikan
Walhi Aceh mendesak skema pengurangan karbon dalam pengelolaan hutan di Aceh dihentikan. Skema ini hanya jadi lahan permainan guna mencari keuntungan pihak yang terlibat di dalamnya. Kasus transaksi saham oleh Carbon Conservation dengan East Asia Minerals Corporation dan hutan Aceh sebagai asetnya adalah salah satu bukti permainan dalam urusan karbon hutan.
"Walhi sejak awal sudah menduga bakal seperti ini. Apa pun bentuk skema pengurangan karbon hutan selalu berujung pada permainan bisnis yang menguntungkan pihak tertentu. Jadi, kami meminta semua skema karbon dihentikan," ujar Direktur Walhi Aceh Zulfikar.

Sumber : Kompas.com

Analisis DNA Deteksi Asal-usul Suku Bajo

Bocah Suku Bajo bermain sampan di Desa Mola, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara,
 
Universitas Haluoleo (Unhalu), Kendari, Sulawesi Tenggara akan bekerja sama dengan Université de La Rochelle, Perancis untuk meneliti DNA Suku Bajo. Bulan September 2011 nanti, MoU kerja sama akan ditandatangani dan akan segera dilanjutkan dengan proses penelitian.
"Benar kita lakukan kerjasama itu. Rencananya nantu bulan sembilan akan ditandatangani MoU lalu mulai penelitian. Akan diambil sampel air liur nanti untuk analisis DNA," kata Abdul Manan, Dosen Fakultas Pertanian Unhalu yang terlibat dalam proyek penelitian Suku Bajo.
Abdul mengemukakan, ada beberapa kerja sama penelitian tentang Suku Bajo, di mana penelitian DNA suku tersebut adalah salah satunya. Penelitian akan melibatkan peneliti Perancis yang juga seorang linguis Bahasa Indonesia, Philippe Grangé.
"Penelitian ini akan membantu mengetahui asal usul Suku Bajo," kata Abdul saat dihubungi lewat telepon Minggu (8/5/2011).
Selama ini, ada beragam versi yang menerangkan asal-usul Suku Bajo. Versi satu mengatakan dari Indonesia, versi lain mengatakan dari Filipina, Malaysia, dan lainnya. Ditemui dalam Media Trip WWF di Wakatobi, Jumat (6/5/11) lalu, Wakil Ketua Suku Bajo se-Asia Tenggara dan Sekjen Bajo International Community Consideration (BICC), Sadar, mengatakan, "Hasil penelitian ini bisa sangat banyak gunanya bagi kami Orang Bajo."
Sadar menambahkan, kajian antropologis dan sejarah belum cukup representatif. Analisis DNA bisa membantu menerangkan. Menurutnya, selain mengetahui asal-usul suku Bajo, hasil penelitian juga bisa membantu Suku Bajo mendapatkan haknya.
Suku Bajo lahir dan hidup di laut sehingga punya ketangguhan mengarungi lautan. Meski kini banyak yang tinggal di darat, ketergantuangan terhadap laut belum hilang. Banyak dari mereka yang masih berprofesi sebagai nelayan. Masyarakat Bajo kadang dianggap bajak laut dan perusak, padahal mereka memiliki kearifan dalam mengelola ekosistem laut.
Sekelumit kehidupan Suku Bajo bisa disimak dalam film "The Mirror Never Lies" yang kini tayang di bioskop. 

Sumber : Kompas.com

Terkuak Misteri Kematian Charles Darwin







Kematian Charles Darwin yang dikenal lewat karya agungnya "The Origin of Species" sebagai dasar teori Evolusi telah lama menjadi misteri. Dalam sebuah paparan di acara Historical Clinicopathological Conference, 6 Mei 2011, misteri kematian Darwin tersebut akhirnya terkuak.

Sidney Cohen, direktur riset di Jefferson Medical College di Philladelphia memaparkan hasil analisisnya tentang kematian Darwin. Ia mengatakan bahwa Darwin menderita penyakit Chagas, infeksi Heliobacter pylori dan cyclic vomiting syndrome.
Menurut Cohen, Darwin mulai menderita penyakit Chagas dan infeksi parasit ketika digigit serangga yang mengandung parasit endemik Argentina dalam perjalanannya. Saat ini, penyakit tersebut bisa diobati dengan Benznidazole dan Nifurtimox.
Sementara, penyebab vomiting syndrom atau muntah-muntah belum bisa diuraikan. Kemungkinan sindrom itu berkaitan dengan stres dan akan hilang bila penyakit lain terobati. Dalam saat terparah penyakitnya, diketahui Darwin memuntahkan semua makanan, terutama setelah sarapan.
Darwin diketahui melakukan perjalanan ke Amerika Selatan dan Afrika, melewati Pasifik dan Kepulauan Galapagos selama 5 tahun. Dalam perjalanannya, Darwin mengalami gigitan serangga yang mengandung parasit endemik Argentina.
Meskipun diduga bahwa Darwin mengalami penyakit jantung, namun gigitan serangga yang memacu timbulnya penyakit lain itulah yang dikatakan penyebab utama kematian Darwin. Penyakit jantung sendiri diperkirakan dipacu oleh Chagas yang diderita.
Meninggalnya Darwin sebenarnya adalah sebuah ironi, sebab ia merupakan anak dan cucu seorang ahli medis. Lebih dari 2 lusin diagnosis, termasuk Skizophrenia dijatuhkan dan ragam obat diberikan, tapi tak berhasil. Para dokter bingung dengan gejala yang dialami darwin.
Cohen menyatakan, penelitian yang dilakukannya menambah kekagumannya pada Darwin. "Sulit untuk mengetahui bagaimana penyakit mempengaruhi karyanya. Tapi produktivitasnya tak pernah berkurang," katanya seperti dikutip AP.
Untuk menyimpulkan penyakit yang diderita Darwin, Cohen tak menggunakan sinar-X atau analisis darah apapun, sebab ia memang tak memilikinya. Cohen hanya menganalisa sekian gejala penyakit yang dialami Darwin.

Sumber : Kompas.com

Cara Dinosaurus Bercinta Masih Misterius






Bagaimana cara dinosaurus bercinta? Para ilmuwan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menjawab pertanyaan itu. Sampai sekarang belum ada bukti fisik yang bisa memastikan dan para ilmuwan pun hanya bisa mengembangkan berbagai dugaan.

Dinosaurus juga diduga kuat memiliki kloaka, organ yang juga dimiliki burung dan reptil modern. Kloaka adalah sebuah bukaan yang berfungsi sebagai saluran reproduksi sekaligus lubang pengeluaran urine dan sisa makanan atau feses.
Jika benar dinosaurus memiliki kloaka, ada dua kemungkinan cara bercinta dinosaurus. Pertama, dinosaurus jantan tak memiliki penis sehingga cairan semen ditransfer pejantan melalui kloaka betina lewat mekanisme yang disebut "ciuman kloaka", di mana dua kloaka menempel.
Kedua, dinosaurus jantan mungkin memiliki penis yang akan melakukan penetrasi ke kloaka dan memasukkan cairan semen. Bila pendapat tersebut benar, ilmuwan pun belum mengetahui ukuran penis yang dimiliki dinosaurus.
Sejauh ini palaentolog hanya bisa menebak posisi, durasi, dan perilaku bercinta dinosaurus. Kebanyakan berpendapat bahwa dinosaurus bercinta seperti gajah dan jerapah, pejantan akan menyalurkan cairan semen dengan menunggangi betina dari belakang lebih dulu.
Bila hal itu benar, dalam artikel di Slate.com, ada berbagai masalah yang sepertinya mengganjal. Soal berat badan, misalnya, bagaimana si betina mampu menahan berat si jantan yang luar biasa?
Karena alasan berat tersebut, beberapa ilmuwan berpandangan bahwa dinosaurus bercinta di dalam air sehingga gaya apung yang diterima pejantan bisa mengurangi beban yang ditanggung betina. Sementara, ilmuwan lain berpendapat bahwa dinosaurus bercinta sambil tiduran menyamping.
Semua pendapat tersebut masih diperdebatkan. Ilmuwan belum bisa bersepakat satu sama lain. Satu-satunya yang bisa menjawab adalah bukti fisik, misalnya adanya fosil dinosaurus yang ditemukan dalam posisi sedang bercinta. 

Sumber : Kompas.com

Pari Harimau Dinyatakan Spesies Baru






Pari harimau, jenis ikan pari air tawar yang berasal dari Amazon, telah lama populer sebagai ikan hias di Asia. Setelah sekian lama para ilmuwan meneliti, akhirnya jenis pari tersebut dinyatakan sebagai spesies baru.

Berdasarkan pola warna hitam-oranye pada bagian ekornya, pari harimau ini dinamai Potamotrygon tigrina. Memiliki lebar sekitar 80 cm, jenis pari ini memiliki perbedaan dengan pari lainnya karena warnanya yang mencolok dan karakteristik tulang ekornya.
"Ini adalah salah satu spesies yang paling cantik," kata Marcello de Carvalho, ahli hewan dari University of Sao Paulo, yang memimpin studi tentang pari harimau ini. Hasil studi Carvalho dipublikasikan di Jurnal Zootaxa.
Sejauh ini, ilmuwan belum bisa memprediksi alasan mengapa pari harimau memiliki warna yang mencolok. Warna dan pola unik pari harimau bisa saja sebuah peringatan bagi hewan lain walaupun sebenarnya spesies ini memiliki sedikit saja predator di alam.
"Sepertinya sulit bagi spesies ini untuk pas masuk ke mulut ikan jenis lain," ungkap Carvalho.
Ia menambahkan, pengetahuan tentang ikan ini masih minim. Pedagang yang menjual dan membiakkan pari harimau diperkirakan jauh lebih mengetahui daripada ilmuwan.
"Mengklasifikasikan secara formal adalah langkah pertama untuk memahami bagaimana cara mengelola sumber daya ikan ini," kata Carvalho. 

Sumber : Kompas.com

Limbah Tambak Udang Perlu Diawasi






Lampung merupakan provinsi yang dikenal sebagai sentra budidaya udang. Dinilai dari jumlah yang diekspor, memang terkesan menggiurkan. Namun, beragam persoalan lingkungan juga mengemuka. Di antaranya soal pembuangan limbah tambak udang.
 "Dengan berkembangnya tambak yang tak terkendali, persoalan yang muncul adalah akumulasi limbah yang mengakibatkan pencemaran. Paling parah itu pencemarannya di Lampung Timur, itu sepanjang pantai terjadi pencemaran," kata Direktur Eksekutif Mitra Bentala Herza Yulianto saat ditemui Kompas.com belum lama ini.

Herza mengungkapkan, masih banyak pemilik tambak udang yang tak melakukan pengolahan limbah. "Ada masalah pengolahan limbah itu untuk wilayah tambak yang di atas 5 hektar. Tapi ada masalah juga karena kadang wilayah dicantumkan pemiliknya berbeda agar tak wajib mengelola limbah," ungkap Herza.
Limbah udang berupa unsur organik, biasanya sisa pakan, bisa mengganggu keseimbangan ekosistem pantai. Akumulasi unsur organik bisa meningkatkan populasi alga yang mengganggu komunitas ikan. Limbah udang juga bisa mengganggu budidaya lain yang ada di pantai, misalnya kerapu.
Menurut Herza, pengawasan pengelolaan limbah ini perlu dilakukan. Perlu diperhitungkan juga dampak akumulatif dari limbah yang terjadi akibat banyaknya tambak di suatu wilayah, walaupun pemiliknya mungkin masih mengelola dalam skala kecil atau tradisional.
Ditemui dalam media trip bersama WWF, Senin (18/4/2011), Herza mengatakan, "Untuk limbah tambak skala kecil, pengelolaan limbah bisa dengan saluran sehingga bisa untuk retention. Ini akan memacu sedimentasi unsur-unsur yang tersisa hingga tak terbuang langsung."
Selain itu, pengelolaan juga bisa dilakukan dengan melibatkan ikan ataupun rumput laut. Adanya rumput laut dan ikan akan membantu mengurangi akumulasi limbah organik tambak udang. Menurut dia, pengolahan limbah ini adalah salah satu bentuk budidaya yang bertanggung jawab. 

Sumber : Kompas.com

Hutan Bakau Simpan Lebih Banyak Karbon







Hutan bakau ternyata menyimpan lebih banyak karbon dibanding kebanyakan hutan hujan tropis. Hal tersebut terungkap dalam hasil penelitian Center for International Forestry Research (CIFOR) dan USDA Forest Service.
Penemuan ini menggaris bawahi pentingnya pelestarian hutan bakau sebagai langkah mengatasi perubahan iklim. Selama ini, hutan bakau di kawasan pesisir selama ini dirusak dalam kecepatan signifikan, berkontribusi pada emisi gas rumah kaca.
Daniel Murdiyarso, ilmuwan senior CIFOR mengatakan, "Hutan bakau dihancurkan sangat cepat. Ini perlu dihentikan. Penelitian kami menunjukkan bahwa hutan bakau memainkan peranan penting dalam mitigasi melawan perubahan iklim."
Dalam studi yang dipublikasikan di Nature GeoSceince 3 April lalu itu, ilmuwan menghitung jumlah simpanan karbon di hutan bakau di sepanjang wilayah Indo-Pacific. Sejauh ini, belum ada studi serupa yang mengcover wilayah yang luas.
Dari hasil riset, terlihat bahwa perusakan dan degradasi hutan mangrove bisa menghasilkan setidaknya 10 persen dari emisi perusakan hutan global meskipun hanya terhitung 0,7 persen dari area hutan hujan tropis.
Kebanyakan karbon disimpan di dasar hutan mangrove dan bisa terlihat di permukaan tanah dan air. Mangrove sendiri diketahui terdapat di pantai tepi samudera, tersebar  di 118 negara.
Perusakan hutan dan alih fungsi lahan berkontribusi sebanyak 8-20 persen dari total emisi karbon, kedua setelah penggunaan bahan bakar fosil. Inisiatif international REDD+ dipertimbangkan sebagai cara paling efektif menahan laju perubahan iklim. 

Sumber: Kompas.com

encana Akibat Ulah Manusia dan Iklim






Frekuensi bencana terkait iklim dan cuaca di Indonesia terus meningkat dalam 10 tahun terakhir. Perubahan iklim kerap menjadi kambing hitamnya. Namun, kekeliruan pengelolaan lingkungan sebenarnya berperan besar terhadap peningkatan frekuensi bencana.

Kajian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2011 menyebutkan, tren bencana di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Jika tahun 2002 hanya tercatat 190 kejadian bencana, pada 2010 terdapat 930 kejadian. Bahkan, tahun 2009 terjadi 1.954 kejadian.
Dari total kejadian bencana itu, hampir 79 persen merupakan bencana hidrometeorologi, yaitu bencana yang terkait cuaca dan iklim. Bencana ini antara lain banjir, kekeringan, tanah longsor, puting beliung, kebakaran hutan dan lahan, serta gelombang pasang.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, tahun 2002 frekuensi bencana hidrometeorologi di Indonesia yang tercatat 134 kejadian. Tahun 2010 mencapai 736 kejadian. Pada tahun 2009 melonjak sampai 1.234 kejadian.
Tak hanya peningkatan frekuensi, dampak dan luasan bencana hidrometeorologi juga meningkat. Jumlah korban bencana hidrometeorologi di Indonesia yang tewas selama delapan tahun terakhir mencapai 4.936 orang, sebanyak 17,7 juta orang menderita dan mengungsi, ratusan ribu rumah rusak, dan lebih dari 2,5 juta rumah terendam banjir. Jumlah korban ini memang relatif kecil dibandingkan dengan korban tewas akibat bencana geologi, seperti gempa bumi dan tsunami, yang berkisar 200.000 jiwa dalam kurun waktu sama.
Dalam laporan Global Humanitarian Forum (The Anatomy of Silent Crisis, 2009) disebutkan, bencana hidrometeorologi akan menjadi ancaman terbesar manusia pada tahun-tahun mendatang. Laporan ini secara lugas menuding perubahan iklim sebagai penyebabnya.
Benarkah peningkatan bencana hidrometeorologi hanya disebabkan oleh iklim yang berubah?
Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan, iklim global telah berubah. Pengaruh perubahan iklim menyebabkan pola curah hujan berubah. Tidak hanya tebal hujan yang berubah, intensitas, durasi, dan sebaran curah hujan juga berubah. Perubahan iklim global juga sangat memengaruhi perubahan pola aliran, seperti penurunan kecenderungan curah hujan tahunan.
Secara global, curah hujan tahunan terus meningkat di daerah lintang tengah dan tinggi di belahan bumi utara, yakni 0,5-1 persen per dekade, kecuali di Asia Timur. Di daerah subtropik, rata-rata curah hujan berkurang sekitar 0,3 persen per dekade, sedangkan di daerah tropis meningkat 0,2-0,3 persen per dekade selama abad ke-20. Sebagian besar terjadi di belahan bumi bagian utara. Adapun perubahan curah hujan di belahan bumi bagian selatan belum diketahui secara komprehensif.
Sutopo mengatakan, beberapa penelitian skala kecil telah banyak dilakukan di daerah-daerah tropis di belahan bumi bagian selatan, seperti di Indonesia. Perubahan iklim global telah membawa perubahan pola musim lokal.
Secara rata-rata jumlah hujan pada musim hujan (Oktober hingga Maret untuk wilayah Jawa) adalah 80 persen dari jumlah hujan tahunan. Perubahan pola musim terjadi dengan pertambahan lama musim kering dan peningkatan rasio jumlah hujan pada musim hujan terhadap musim kering yang meningkat di atas 80 persen. Hal ini semakin diperparah dengan terjadi penurunan akumulasi total hujan tahunan secara persisten hampir di seluruh wilayah Indonesia dalam lima dekade terakhir sehingga potensi air tercurah berkurang.
Selain itu, suhu bumi meningkat 0,7 celsius dalam 100 tahun. ”Secara teori, peningkatan suhu ini meningkatkan penguapan. Kadar air di udara meningkat. Stabilitas udara terganggu sehingga lebih tidak stabil. Akibatnya, gejala-gejala cuaca lebih dinamis. Kondisi ekstrem pun bisa lebih sering terjadi,” kata Hidayat Pawitan, pakar perubahan iklim dari Institut Pertanian Bogor.
Alam dan manusia
Menurut Hidayat, kesalahan pengelolaan lingkungan juga berpengaruh besar terhadap meningkatnya intensitas bencana di Indonesia. Karena itu, dia mengingatkan, agar perubahan iklim tidak menjadi kambing hitam atas segenap bencana yang terjadi.
Perubahan iklim terjadi sangat lama dan dampaknya juga masih diperdebatkan. Namun, kesalahan pengelolaan manusia bisa berlangsung dengan cepat.
Sutopo mengatakan, meningkatnya bencana hidrometeorologi di Indonesia karena kombinasi antara perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Bahkan, penelitian dia di Jawa menemukan, faktor degradasi lingkungan lebih dominan menjadi penyebab banjir dibandingkan perubahan iklim.
Menurut Sutopo, laju kerusakan hutan di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan kemampuan pemerintah dalam merehabilitasi lahan. Misalnya, selama 2003-2006, laju kerusakan hutan 1,17 juta hektar per tahun, sedangkan kemampuan pemerintah dalam merehabilitasi hutan dan lahan setiap tahun hanya sekitar 450.000 hektar. Artinya, terjadi defisit lebih dari 550.000 hektar per tahun. Terlebih lagi keberhasilan penanaman pohon dalam rehabilitasi hutan dan lahan tidak mencapai 100 persen sehingga degradasinya akan lebih besar.
Dengan laju kerusakan lingkungan yang terus meningkat, Sutopo memperkirakan, bencana hidrometeorologi di Indonesia akan terus meningkat.
Berdampak luas
Sutopo mengingatkan, bencana hidrometeorologi tak hanya menyebabkan korban tewas, tetapi juga mengancam hidup manusia dalam bentuk kegagalan panen.
Penelitian ahli meteorologi dari IPB, Rizaldi Boer, menyebutkan, perubahan iklim ekstrem menyebabkan hilangnya produksi padi di Indonesia pada periode 1981-1990 sekitar 100.000 ton per tahun per kabupaten. Pada kurun 1991-2000 gagal panen meningkat menjadi 300.000 ton. Diramalkan pada tahun 2050 terjadi defisit gabah kering sebesar 60 juta ton di Indonesia.
"Jika bencana ini tak diantisipasi secara menyeluruh, bukan hanya bencana alam yang terjadi, tetapi juga bencana sosial. Harus ada perubahan fundamental dalam pengelolaan lingkungan," kata Sutopo.

Sumber : Kompas.com

Kerang Laut Raksasa Makin Langka


Populasi kerang laut raksasa atau kima di sekitar perairan Sulawesi Tenggara makin langka akibat maraknya perburuan terhadap hewan dilindungi itu. Hingga saat ini, pemerintah belum memiliki langkah konservasi apapun untuk melestarikan hewan yang berperan vital dalam keseimbangan ekosistem laut dangkal itu.

Ketua Konservasi Taman Laut Kima Toli-toli, Habib Nadjar Buduha, mengatakan, perburuan kima (Tridacna) di wilayah pesisir timur Sultra sudah terjadi sejak lama. "Kima diburu untuk diambil dagingnya dan cangkangnya sebagai hiasan," kata Habib saat ditemui di pusat konservasi kima yang didirikannya secara swadaya di Kabupaten Konawe, Sultra Minggu (8/5/2011).
Dari temuan-temuannya di lapangan, selain nelayan lokal, banyak pula nelayan asing yang berkedok mencari ikan namun sebenarnya berburu kima di perairan Sultra hingga Sulawesi Tengah. "Seringkali saat menyelam, kami tinggal menemukan cangkang-cangkangnya saja di dasar laut," ujar Habib.
Kondisi itu disesalkan Habib. Pasalnya, di wilayah perairan Indonesia hidup tujuh dari sembilan jenis kima yang ada di dunia. "Dua di antaranya merupakan yang paling langka di dunia, yakni Tridacna gigas dan Tridacna derasa yang sekarang hanya tersisa di perairan Sulawesi hingga Papua," katanya.
Ukuran kima bervariasi mulai dari sekepalan tangan orang dewasa hingga bisa tumbuh mencapai panjang 1,3 meter dan berbobot 250 Kg. Harga daging kima yang mencapai 150 dollar AS per Kg di pasaran internasional membuatnya menjadi komoditas incaran.
Karena itu, Habib berharap pemerintah pusat bisa segera turun tangan untuk melindungi biota laut ini. Pemerintah negara-negara lain di Asia, seperti Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Australia sudah melakukan konservasi kima. "Hanya Indonesia yang belum," ujarnya.
Kima memegang peranan penting dalam ekosistem laut dangkal karena ia menjadi filter alami air laut dan cangkangnya menjadi tempat hidup berbagai biota terumbu karang. Telur dan anak-anak kima juga menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan laut.
Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Bidang Pengawasan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sultra Ridwan Bolu mengakui terbatasnya jumlah personil maupun anggaran untuk mengawasi perburuan kima tersebut.
DKP Sultra hanya bisa menggelar patroli laut sekali dalam sebulan di satu kabupaten/kota. Dengan jumlah 12 kabupaten/kota di Sultra, maka DKP hanya bisa menggelar satu kali patroli di setiap kabupaten dalam setahun.
Ridwan menambahkan, selain kendala teknis itu, banyak pula masyarakat yang belum paham tentang status kima sebagai hewan yang dilindungi. "Banyak nelayan yang mengambil kima untuk konsumsi sehari-hari," ujarnya.
Untuk mengatasi kendala itu, Ridwan menyatakan pihaknya mengadopsi sistem pengawasan berbasis masyarakat. Masyarakat didorong membentuk kelompok-kelompok untuk mengawasi wilayah lautnya. "Saat ini sudah terbentuk 80 kelompok di seluruh Sultra," katanya. 

Sumber : Kompas.com

Komodo dan Keajaiban Sesungguhnya

Perjalanan laut dari Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, menuju kawasan taman nasional ini, 18-19 April 2011, membuktikan itu.
Laut yang membiru dengan barisan pulau-pulau kecil, bagian dari Kepulauan Sunda Kecil, dengan padang-padang rumput menghijau menjadi pengingat bahwa Indonesia adalah negeri bahari yang sangat indah.
Namun, semua itu hanya menjadi sebagian kecil dari keajaiban alam yang bisa dijumpai di situs Warisan Budaya Dunia UNESCO. Keajaiban lainnya adalah kekayaan fauna, baik yang berada di laut maupun di darat.
Terdapat setidaknya 277 spesies fauna darat—termasuk bintang utamanya, komodo (Varanus komodoensis)—253 spesies karang pembentuk terumbu, dan tak kurang dari 1.000 spesies ikan di wilayah seluas 1.817 kilometer persegi itu.

Sumber : Kompas.com