Minggu, 12 Juni 2011

10 Ribu Pohon Ditanam di Lahan Kritis

Ilustrasi

Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, menanam 10 ribu pohon ketapang, cemara laut, trembesi, dan kayu apika di beberapa lahan kritis dan sepanjang pesisir pantai daerah itu.

"Kegiatan penghijauan mulai dari kecamatan paling ujung sampai ibu kota daerah ini untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup serta mencegah dampak pemanasan global di daerah ini," kata Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kabupaten Mukomuko Risber di Mukomuko, Sabtu.

Ia mengatakan, untuk menanam sebanyak 10 ribu pohon itu, petugas KLH melibatkan perangkat desa dan masyarakat di pesisir pantai maupun wilayah yang berada di lahan kritis.

"Lokasi penananam dipusatkan di sepanjang pesisir pantai Kecamatan Air Rami, Kecamatan Air Dikit dan Kecamatan Kota Mukomuko, serta beberapa kecamatan yang berada di lahan kritis," urainya.

Selain itu pohon juga ditanam di sepanjang daerah aliran sungai yang kritis dan sempadan Danau Nibung yang sudah tidak memiliki pelindung lagi.

"Sebelumnya petugas KLH sudah melakukan survei lokasi yang menjadi sasaran dalam penanaman pohon," urainya.

Ia menerangkan, pohon tersebut juga digunakan oleh warga untuk ditanami di kantor desa, pekarangan rumah, sepanjang jalan yang berada di desa.

"Dengan 10 ribu pohon bantuan dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Bengkulu diharapkan bisa memberikan mamfaat untuk menggantikan pohon yang sudah ditebang oleh warga di daerah ini," urainya.

Ia menjalaskan, program penghijauan di beberapa lokasi kritis dan sepanjang pesisir pantai perlu ditingkatkan oleh warga setempat dengan bantuan bibit pohon dari pemerintah.

"Banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan hijaunya daerah ini oleh pohon, pertama untuk mengurangi dampak pemanasan global serta memperlambat pengurangan daratan oleh abrasi pantai di daerah ini," katanya.

Sumber : Antaranews.com

Jumat, 10 Juni 2011

Ekowisata Mangrove Ancam Ekosistem?

Ilustrasi

Lembaga swadaya masyarakat (LSM) Rumah Mangrove menduga ekowisata mangrove di Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya disalahgunakan untuk kepentingan bisnis.

Koordinator Rumah Mangrove, Wawan Some di Surabaya, Selasa, mengatakan ekowisata mangrove seharusnya tidak melakukan eksploitasi alam, namun sebatas menggunakan jasa alam dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan, fisik, dan psikologis wisatawan.

"Namun dalam perkembangannya, muncul permasalahan baru salah satunya dengan digelarnya pagelaran musik dangdut di kawasan tersebut," katanya.

Bahkan, lanjut dia, laporan yang masuk ke Rumah Mangrove suara sound syistem musik dangdut yang cukup keras, sekaligus disertai adanya suara letusan semacam petasan. "Ini tentunya akan sangat berimbas pada ekosistem," ujarnya.

Menurut dia, acara dangdutan tersebut digelar pada saat penanaman 10.000 batang mangrove serta peresmian gazebo oleh salah satu BUMN di muara sungai Wonorejo beberapa waktu lalu.

Selain itu, lanjut dia, peresmian mini restoran apung ukuran sekitar 6 x 6 m2 di petak tambak warga yang tidak jauh dari pusat ekowisata juga menambah panjang daftar masalah yang sebelumnya ada.

Wawan mengatakan rusaknya infrastruktur juga terjadi di kawasan tersebut di antaranya rusaknya track (papan jalan) yang baru dibangun.

Suara bising dari mesin temple perahu yang dipakai rombongan wisatawan atau peserta tanam mangrove massal menuju muara ditengarai mengganggu keberadaan burung di pantai timur Surabaya (Pamurbaya).

"Perahu ekowisata yang relatif besar menghasilkan gelombang yang besar dan merusak tepi sungai," ujarnya.

Tingginya aktifitas manusia di Pamurbaya akhir-akhir ini diduga berdampak pada satwa liar, utamanya burung sehingga bukan tidak mungkin kasus daun mangrove jenis Avicennia Marina yang dimakan lalat beberapa waktu lalu disebabkan karena populasi burung pemakan serangga di Pamurbaya berkurang.

Disamping itu, keberadaan gazebo yang saat ini ada tiga banggunan di depan hutan mangrove yakni di sisi timur bakal menghalangi pertumbuhan alami hutan mangrove yang akan terus tumbuh ke arah laut (timur).

Di sisi lain, lokasi tempat gazebo saat ini merupakan lokasi yang sering menjadi tempat ribuan burung migran singgah untuk mencari makan dan istirahat.

Semakin tinggi aktivitas manusia di busem dan diduga akan terus meningkat setelah ada track mengancam monyet ekor panjang (macaca fascicularis). Ini karena daerah jelajah koloni monyet ekor panjang yang berjumlah sekitar 20 ekor itu menjadi lebih sempit.

Wawan menyebutkan fakta di lapangan menunjukan ada aktifitas pelepasan monyet di lokasi ekowisata. Padahal, selama ini monyet mempunyai wilayah masing-masing, ada di muara Gunung Anyar maupun Wonorejo. Dampaknya, begitu ada monyet baru masuk, terjadi perkelahian antarmonyet.

Sumber : Antaranews.com