Minggu, 10 April 2011

Serbuan Sampah di Kuta sampai Mei



Serbuan sampah ke Pantai Kuta, Bali, diperkirakan masih terus akan berlangsung hingga akhir Mei. Dengan demikian, petugas kebersihan Kabupaten Badung dan Provinsi Bali masih harus bekerja keras membersihkan pantai yang menjadi lokasi favorit wisatawan tersebut.
Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah III Denpasar Endro Cahyono, Sabtu (9/4/2011), menyatakan bahwa penyebab munculnya sampah di sejumlah pantai di selatan Bali itu adalah tiupan angin dari barat.
Menurut dia, angin yang bertiup dari barat tersebut membawa segala sampah dari Samudra Hindia, yang kemudian terdampar di Pantai Kuta, Seminyak, hingga Legian.
”Ketiga pantai, terutama Pantai Kuta, berada persis di cekungan Pulau Bali di bagian selatan. Karena berbentuk cekungan, ombak tertahan, dan sampahnya menumpuk di pantai,” katanya.
Dia menambahkan, embusan angin barat itu biasa terjadi setiap tahun sehingga serbuan sampah pun rutin setiap tahun. Sampah ringan dan berat seperti potongan batang kayu, lanjutnya, bisa berasal dari mana saja, termasuk dari Jawa Timur.
Biasanya, angin barat berlangsung dari Desember hingga Februari. ”Tetapi, tahun ini berlangsung lebih lama karena pengaruh La Nina,” kata Endro.
Secara terpisah, Ketua Bali Tourism Board Ngurah Wijaya menanggapi dengan tenang pemberitaan majalah Time edisi 1 April yang berjudul ”Holidays in Hell: Bali’s Ongoing Woes”.
Baginya, artikel itu memang fakta dan tidak perlu dimungkiri atau dibantah. Apalagi, yang disoroti dalam pemberitaan tersebut hanya kondisi di Bali selatan, khususnya Kuta. ”Pulau Bali tidak hanya Kuta dan kondisi itu tidak dijumpai di semua wilayah Bali,” ujarnya.
Ngurah Wijaya mengakui, Pantai Kuta memang lokasi paling favorit bagi wisatawan, termasuk yang baru pertama kali ke Bali. Namun, pantai di Bali tidak hanya di Kuta. Kalau mau menikmati pantai, wisatawan bisa ke Pantai Lovina dengan lumba-lumbanya di Buleleng, Pantai Sanur di Denpasar, Candi Dasa di Karangasem, dan Tanah Lot di Tabanan.
”Yang terpenting saat ini, bagaimana menindaklanjuti kritik tersebut dan mengatasi permasalahan yang ada,” katanya.
Tetap ramai
Dari pantauan Kompas, hingga Sabtu kemarin wisatawan tetap berdatangan dan bergembira ria bermain-main di Pantai Kuta sambil menyaksikan petugas membersihkan pantai.
Sejumlah aparat kepolisian, pegawai hotel, dan Satuan Petugas Pantai Kuta sejak pagi hingga petang beramai-ramai memungut dan membersihkan sampah yang berserakan di pasir pantai.
Ketua Satuan Petugas Pantai Kuta IGN Tresna bahkan mengaku terkesan karena disalami sejumlah wisatawan yang bersimpati terhadap aktivitas pembersihan pantai.
”Kami bersiaga hingga hari-hari seterusnya dan menjaga sampah tidak lagi berserakan mengganggu pengunjung,” kata Tresna.
Ia menyambut gembira komitmen Pemerintah Kabupaten Badung yang bersedia mengirimkan berapa pun truk untuk mengangkut sampah selama 24 jam.
Menurut catatan Kompas, pariwisata Bali mendatangkan sekitar 2,4 juta wisatawan asing melalui Bandara Internasional Ngurah Rai pada tahun 2010. Tahun ini pemerintah menargetkan 2,7 juta wisatawan asing berkunjung ke Bali.

Sumber : Kompas.Com

Jumat, 08 April 2011

Akibat Jika Anak Cepat Puber







Sering nonton sinetron, banyak makan makanan junk food, faktor genetik atau beberapa penyakit bisa membuat anak mengalami pubertas dini. Ini membuat anak tumbuh dewasa sebelum usianya. Apakah bahaya bila anak pubertas dini?

Secara umum, tanda awal pubertas yang normal mulai muncul pada anak perempuan pada usia 8-13 tahun, sedangkan pada anak laki-laki pada usia 9-14 tahun.

Bila tanda seksual sekunder pada anak perempuan muncul sebelum usia 8 tahun dan anak laki-laki sebelum usia 9 tahun, hal itu disebut pubertas prekoks atau pubertas dini, seperti dikutip dari tulisan dr Aditya Suryansyah Semendawai, Sp.A, dalam buku yang berjudul 'Panik Saat Puber? Say No!!!' terbitan Dian Rakyat.

Pada anak perempuan, pubertas dini ditandai dengan timbulnya pembesaran payudara, pertumbuhan tinggi badan yang cepat dibanding anak seumurnya dan tumbuh rambut kemaluan lebih awal. Sementara itu, pada anak laki-laki diawali dengan pembesaran buah zakar (testis) kemudian diikuti pembesaran penis.

"Perubahan hormon dalam tubuh pasti akan mempengaruhi struktur tubuh. Jadi kalau anak pubertas dini, pasti akan ada dampaknya," jelas dr Aditya Suryansyah Semendawai, Sp.A, dalam acara Talkshow Media dan Peluncuran Buku 'Panik Saat Puber? Say No!!!' di Magenta Cafe, Pacific Place, Jakarta, Rabu (6/4/2011)

Seseorang menjadi penyandang pubertas prekoks tergantung dari berbagai faktor, seperti faktor genetik atau penyakit tertentu yang dapat merangsang produksi hormon gonad, seperti tumor ovarium atau tumor testis.

Menurut dr Aditya, pubertas dini pada anak perempuan sering disebabkan karena gangguan hormon di otak yaitu di hipotalamus dan hipofise, sedangkan pada anak laki-laki karena tumor.

"Anak yang sering nonton sinetron atau sering makan makanan yang mengandung hormon seperti junk food juga bisa mengalami pubertas dini," lanjur dr Aditya yang merupakan spesialis anak di RSAB Harapan Kita.

Dalam bukunya dr Aditya menjelaskan, kalau pubertas timbul lebih awal maka tidak hanya ditandai dengan pertumbuhan tubuh yang besar dan menjadi lebih cepat tinggi, tapi tulang juga akan lebih cepat menutup.

Jadi, bila seorang remaja mengalami pubertas dini, awalnya pertumbuhan badannya akan lebih tinggi, tetapi karena tulang menutup lebih cepat maka menyebabkan tubuhnya lebih pendek dari teman lainnya yang mengalami pubertas normal.

Di samping itu, bila terlalu cepat mengalami pubertas maka hormonnya akan tinggi dan itu akan menjadikan anak 'dewasa lebih cepat', padahal mentalnya belum siap menjadi dewasa.

Pada akhirnya, anak tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal yang ditakutkan yaitu bila ia menyenangi lawan jenis yang dapat menimbulkan peristiwa yang tidak diharapkan akibat dorongan hormonalnya tersebut.

"Anak yang pubertas dini akan menjadi salah tingkah, tidak bisa menempatkan diri, dandanan menjadi dewasa, mudah cemas, peragu dan menjadi tidak percaya diri. Ini karena mereka belum siap dan ketika terjadi pubertas dini mereka tidak menyadarinya," jelas dra Louise Maspaitella M.Psi, Psikolog Klinis Keluarga dari RSAB Harapan Kita.

Tidak hanya secara psikologis dan pertumbuhan badan, dr Aditya juga mengatakan bahwa pubertas dini dapat meningkatkan risiko kanker dan tumor di kemudian hari.

"Pubertas dini artinya hormonnya akan semakin cepat. Ini bisa mempengaruhi struktur tubuh dan meningkatkan risiko tumor. Pada perempuan misalnya bisa memicu kanker payudara. Pada laki-laki juga bisa meningkatkan risiko tumor testis dan tumor prostat," tutur dr Aditya yang mendalami masalah hormon pertumbuhan.

Pubertas dini meningkatkan risiko kanker dan tumor karena tingkat hormon estrogen, progesteron (pada perempuan) dan testosteron (pada laki-laki) dapat memicu beberapa tumor yang bisa menjadi ganas.

Bagaimana mengatasinya?

Sebelum mengobati atau menghentikan pubertas dini, harus ditentukan terlebih dahulu penyebabnya.

Pubertas prekoks atau pubertas dini berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi dua, yaitu pubertas prekoks sentral dan perifer.

Pada pubertas prekoks sentral maka akan melibatkan semua hormon di otak. Sementara itu, pada pubertas prekoks perifer, keterlibatan hanya di tempat tertentu, biasanya karena tumor.

Dalam bukunya, dr Aditya menjelaskan, bila penyebabnya sentral maka diberikan hormon antagonis yang bertujuan untuk menghambat pubertas. Tetapi, bila penyebabnya perifer maka tumornya harus diangkat atau diobati apa yang menjadi penyebabnya.

Sumber : DetikHealt.Com